Thursday, June 10, 2010

Pesan kepada Pak Hulman Sitorus, Walikota Terpilih Kota Siantar

Pertama saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak menjadi walikota Siantar. Terbukti lebih dari 30% pemilih telah menentukan siapa yang menajadi kepala daerah di kota sejuk yang berpenduduk 250.000 ini dan menurut konstitusi, Bapak berhak memimpin pemerintahan di kota ini selama 5 tahun, 2010 sampai 2015.

Sebagai warga saya hanya boleh berharap dan berdoa, agar kota ini bertamabah maju, dalam pembangunan di segala bidang di bawah kepemimpinan Bapak Hulman Sitorus. Salah satu syaratnya adalah agar pemerintah kota ini tidak melakukan korupsi, seperti yang juga menjadi visi bapak waktu kampanye pemilu kepala daerah yang sudah berlalu.

Kalau diizinkan saya ingin menyampaikan uneg-uneg yang menurut saya berguna untuk kemajuan kota ini di masa depan. Harapan saya agar kota ini menjadi kota yang sehat yang memiliki prasarana sebagai kota modern dan dapat menjadi contoh untuk kota-kota lain.

Salah satu yang paling penting adalah pembenahan jalan yang aman dan sehat. Apakah mungkin bahwa semua jalan sesuai dengan yang diamanatkan UU Lalulintas bahwa selain untuk jalan mobil harus ada ruang untuk pejalan kaki. Jadi tiada jalan tanpa jalur pedestrian. Untuk yang sudah mempunyai lokasi pedestrian seperti Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka, harus ditertibkan agar tidak menjadi lokasi parkir sepeda motor atau mobil. Dan jangan pula menjadi lokasi pohon karena walaupun pohon penting untuk penghijauan, lebih penting manusia dulu diselamatkan dari ancaman lalu lintas kenderaan bermotor. Pohon dapat ditanam lebih banyak pada lokasi yang tidak mengganggu lalu lintas seperti di Lapangan Merdeka, RSU Djasamen dan lokasi lain yang diperuntukkan untuk itu.

Sebagai kota yang memenuhi standard kota yang bersih dan sehat saya mengusulkan agar semua selokan dalam kota ini dibangun tertutup. Salah satu peradaban yang ditemukan pada zaman Romawi 3000 tahun yang lalu adalah pembangunan riol, yaitu saluran air limbah yang tertutup, tidak terbuka. Pemerintah kolonial Belanda saja sudah membangun jalan Sutomo dan Jalan Merdeka dengan selokan tertutup. Sekarang baru kita sadar, bahwa selokan yang terbuka ini adalah penyebab berbagai penyakit, khususnya demam berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang berkembang di air selokan yang tergenang. Selain itu, sampah tidak bisa dibuang ke paret yang tertutup sehingga pembersihannya lebih mudah melalui bak kontrol tertutup yang direncanakan cukup. Mungkin Siantar bisa meniru kota Kuala Tanjung, perumahan pegawai PT Inalum sebagai kota yang berstandar internasional. Di sana juga sudah ada Instalasi Pengolahan Air Limbah, yang dibutuhkan kota Siantar, kalau kota ini direncanakan menjadi daerah yang memberikan perhatian pada ekosistem yang baik.

Perhatian kita juga tertuju pada air minum yang dihasilkan oleh Perusahaan Daerah PAM (Perusahaan Air Minum). Saya kira tidaklah susah untuk meningkatkan standar kualitas air minum di kota ini menjadi benar-benar air minum yang boleh diminum tanpa menimbulkan penyakit, walaupun tidak dimasak (namanya saja air minum, bukan air mandi atau air cuci kain atau cuci mobil). Hal ini bukan hal yang mustahil, seperti ayng sudah dilakukan di kota Singapura, dan banyak kota-kota lainnya di dunia. Apalagi sumber air kita bukan dari sungai kotor, tetapi air gunung. Pada beberapa kota di dunia, air sungai pun dapat diproses sehingga air kran yang dihasilkan menjadi layak diminum.

Pak Hulman, banyak lagi yang harus dikerjakan di kota ini, yang saya kira Bapak sendiri lebih tahu dari saya. Mudah-mudahan cita-cita pembangunan yang Bapak janjikan tercapai. Saya kira semua rakyat Siantar akan menyetujui dan mendaoakan keberhasilan Bapak. Kalau Bapak memerintah dengan baik, rakyat Siantar akan memilih Bapak kembali pada Pemilu Kepala Daerah tahun 2015. Kalau Bapak ingkar janji, tentu saja kami akan berpaling dari Bapak. Sekali lagi Selamat Bekerja. Tuhan Memberkati.

Dr. Sarmedi Purba
Kamis, 10 Juni 2010

Sunday, February 28, 2010

JK DAN SP


Comment: masing-masing menerawang dengan pikiran sendiri-sendiri, no communications


Perbincangan serius untuk keakanan PMI di Sumut. Antara JK dan SP: Drs Kasim Siyo, Ketua PMI Daerah Sumut, sisi kiri: Parlindungan Purba SH, anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Sumut

CINTA BERSEMI DI PESTA DANSA




Errata: halaman 58 baris 17 dari bawah: Sarmedi kelahiran 13 Agustus 1939 (bukan 1938)

Halaman 59 baris 1 kiri: 1975 bukan 1974

Halaman 59 baris 14 kiri dari bawah: Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) – bukan GKPI

Halaman 59 baris 9 kanan: Nur ruhig, alles wird gut.

Halaman 59 baris 12 kanan dari bawah: 5 orang cucu (bukan 4)

Saturday, December 26, 2009

Christmas in Bangkok

Merry Christmas and a Happy New Year.
We are happy to greet you here with a Christmas Dance of our Rosa and Clara in

http://www.youtube.com/watch?v=JkIGVn4chuI

Monday, September 21, 2009

Masukan untuk Seminar Nasional Universitas Simalungun

Masukan untuk
SEMINAR NASIONAL
PASCA SARJANA UNIVERSITAS SIMALUNGUN
3 Oktober 2009
Dari RS Vita Insani Jalan Merdeka 329 Pematangsiantar
www.vita-insani.co.id

Dengan dasar pemikiran bahwa hanya daerah dan lingkungan yang sehat dapat dikembangkan perekonomian, pendidikan dan kehidupan yang sehat, maka fokus usulan kami adalah memberikan jalan agar dasar kehidupan masyarakat harus sehat.

Dasar itu adalah kondisi sehat untuk rumah, lingkungan rumah, udara dan air di mana penduduk bermukim. Memang kesehatan itu bukan segalanya, namun tanpa kesehatan semuanya akan menjadi sia-sia.

Dengan melihat kondisi kota Siantar saat ini usulan yang perlu kiranya dipertimbangkan adalah sbb:
1. Semua selokan air diubah menjadi sistem tertutup (seperti yang sudah dikonsep sejak zaman Belanda di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka). Sebenarnya peradaban diawali dengan pembuatan sistem riolisasi (zaman Romawi 2000 tahun lalu). Sistem selokan terbuka seperti di Siantar mengundang banyak penaykit, khususnya yang aktual adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).
2. Pembangunan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) kota Pematangsiantar. Seluruh air limbah disatukan dalam satu sistem, di mana air limbah dipool, diproses sehingga tidak beracun, tidak menyebarkan penyakit, artinya dibersihkan minimal 50% baru dibuang ke sungai. Untuk mendukungnya perlu pengolahan limbah padat yang dapat memproduksi pupuk buatan (sudah berjalan sebagian).
3. Pengumpulan dan transportasi sampah rumah tangga secara tertutup. Warga diwajibkan mengumpul sampah rumah tangga dalam keadaan tertutup, dalam kantongan atau tempat sampah tertutup rapat, diangkut dengan truk sampah tertutup dan dikumpulkan di tempat pembuangan akhir yang memenuhi syarat kesehatan.
4. Mewajibkan PAM memproduksi air minum yang benar-benar laik untuk diminum, bebas dari kuman dan zat kimia yang membahayakan kesehatan. Teknologi untuk itu sudah lama tersedia dan tidak susah diperoleh.
5. Semua jalan harus dibangun dengan perangkat lokasi pedestrian, sehingga pejalan kaki mempunyai jalur sendiri, tidak berebutan jalurdengan kenderaan. Pedestrian yang ada di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka harus dirapikan, dibebaskan dari parkiran kenderaan roda dua.
6. Pemindahan sebagian aktivitas Pasar Horas ke pasar yang baru di lokasi baru, dilaksanakan dengan sistematis dan memberikan nilai tambah untuk para pedagang, termasuk pedagang kaki lima.
7. Meniru sistem kota modern di negara yang lebh maju, Siantar diusulkan membuat jalan Sutomo dan Jalan Merdeka Atas menjadi daerah shopping area yang dibenahi secara modern, dengan memperhatikan kenyamanan, keamanan berbelanja. Untuk itu dibutuhkan lokasi parkir atau gedung perparkiran baru, jalan bypass yang mengelilinginya, kalau perlu sebagian dibawah tanah.
8. Terakhir adalah sistem asuransi kesehatan untuk seluruh warga Siantar. Ini sesuai dengan UU Kesehatan yang baru disahkan DPR RI 14 September lalu. Selain Jamkesmas, Jamsostek, Askes PNS dan Askes perusahaan swasta, bank dan PTPN, setiap warga diwajibkan menjadi anggota asuransi kesehatan. Untuk golongan kurang mampu, disubsidi melalui APBD secara bertahap, untuk yang mampu diwajibkan untuk bayar sendiri.


Sebagian upaya ini sebaiknya didukung dengan PERDA, sebagian dengan SK Walikota.

Pematangsiantar, 18 September 2009

Masukan untuk Seminar Nasional Universitas Simalungun

Masukan untuk
SEMINAR NASIONAL
PASCA SARJANA UNIVERSITAS SIMALUNGUN
3 Oktober 2009
Dari RS Vita Insani Jalan Merdeka 329 Pematangsiantar
www.vita-insani.co.id

Dengan dasar pemikiran bahwa hanya daerah dan lingkungan yang sehat dapat dikembangkan perekonomian, pendidikan dan kehidupan yang sehat, maka fokus usulan kami adalah memberikan jalan agar dasar kehidupan masyarakat harus sehat.

Dasar itu adalah kondisi sehat untuk rumah, lingkungan rumah, udara dan air di mana penduduk bermukim. Memang kesehatan itu bukan segalanya, namun tanpa kesehatan semuanya akan menjadi sia-sia.

Dengan melihat kondisi kota Siantar saat ini usulan yang perlu kiranya dipertimbangkan adalah sbb:
1. Semua selokan air diubah menjadi sistem tertutup (seperti yang sudah dikonsep sejak zaman Belanda di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka). Sebenarnya peradaban diawali dengan pembuatan sistem riolisasi (zaman Romawi 2000 tahun lalu). Sistem selokan terbuka seperti di Siantar mengundang banyak penaykit, khususnya yang aktual adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).
2. Pembangunan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) kota Pematangsiantar. Seluruh air limbah disatukan dalam satu sistem, di mana air limbah dipool, diproses sehingga tidak beracun, tidak menyebarkan penyakit, artinya dibersihkan minimal 50% baru dibuang ke sungai. Untuk mendukungnya perlu pengolahan limbah padat yang dapat memproduksi pupuk buatan (sudah berjalan sebagian).
3. Pengumpulan dan transportasi sampah rumah tangga secara tertutup. Warga diwajibkan mengumpul sampah rumah tangga dalam keadaan tertutup, dalam kantongan atau tempat sampah tertutup rapat, diangkut dengan truk sampah tertutup dan dikumpulkan di tempat pembuangan akhir yang memenuhi syarat kesehatan.
4. Mewajibkan PAM memproduksi air minum yang benar-benar laik untuk diminum, bebas dari kuman dan zat kimia yang membahayakan kesehatan. Teknologi untuk itu sudah lama tersedia dan tidak susah diperoleh.
5. Semua jalan harus dibangun dengan perangkat lokasi pedestrian, sehingga pejalan kaki mempunyai jalur sendiri, tidak berebutan jalurdengan kenderaan. Pedestrian yang ada di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka harus dirapikan, dibebaskan dari parkiran kenderaan roda dua.
6. Pemindahan sebagian aktivitas Pasar Horas ke pasar yang baru di lokasi baru, dilaksanakan dengan sistematis dan memberikan nilai tambah untuk para pedagang, termasuk pedagang kaki lima.
7. Meniru sistem kota modern di negara yang lebh maju, Siantar diusulkan membuat jalan Sutomo dan Jalan Merdeka Atas menjadi daerah shopping area yang dibenahi secara modern, dengan memperhatikan kenyamanan, keamanan berbelanja. Untuk itu dibutuhkan lokasi parkir atau gedung perparkiran baru, jalan bypass yang mengelilinginya, kalau perlu sebagian dibawah tanah.
8. Terakhir adalah sistem asuransi kesehatan untuk seluruh warga Siantar. Ini sesuai dengan UU Kesehatan yang baru disahkan DPR RI 14 September lalu. Selain Jamkesmas, Jamsostek, Askes PNS dan Askes perusahaan swasta, bank dan PTPN, setiap warga diwajibkan menjadi anggota asuransi kesehatan. Untuk golongan kurang mampu, disubsidi melalui APBD secara bertahap, untuk yang mampu diwajibkan untuk bayar sendiri.


Sebagian upaya ini sebaiknya didukung dengan PERDA, sebagian dengan SK Walikota.

Pematangsiantar, 18 September 2009

Monday, August 17, 2009

Sarmedi Purba Titian Nadi Sang Dokter Pelangi



Memperingatai HUT 70 Sarmedi Purba telah diluncurkan Film dengan judul Titian Nadi Sang Dokter Pelangi karya sutradara Onny Kresnawan. Film dokumnter yang berdurasi 52 menit ini adalah hasil karya Onny Kresnawan (Sineas Film Documentary - SFD) yang pernah mnggondol juara 3 lomba film dokumnter nasional.

Dengan judul yang sama telah diluncurkan pula pada perayaan HUT tanggal 15 Agusustus itu satu buku berisi 239 halaman dihiasi dengan lk 50 foto jadul dan masa kini dengan lay out yang menarik. Buku ini adalah karya wartawan penulis kondang Medan, Khairiah Lubis dengan fotografer Binsar Bakkara dan designer Vinsensius Sitepu.

Info komersial:
Sekarang buku dan film berjudul
Sarmedi Purba Titian Nadi Dokter Pelangi
tersedia di toko buku kesayangan anda dan kalau stok habis bisa di pesan ke
John Sardi Purba
Kotak Pos 182
Pematangsiantar 21100
email: johnsardipurba@yahoo.com
harga 1 buku Sarmedi Purba Titian Nadi Dokter Pelangi
253 halaman dengan 50 foto jadul dan terkini
Rp 65.000 (+ongkos kirim Rp 20.000)
harga 1 DVD Sarmedi berdurasi 55 menit Rp35.000 (+ongkos kirim Rp20.000).
Bank account:
BCA AC 8200053185
Bank Mandiri AC 1070002129437

info lebih lanjut di http://sarmedipurba.blogspot.com/

Wednesday, August 12, 2009

Resensi Buku Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi


“Mencari Harimau Liar”

Sangat kurang informasi mengenai revolusi sosial di Simalungun pada tahun 1946. Sebagian besar tak setuju jika hal tersebut dianggap revolusi. Tapi faktanya ada sekelompok orang yang ditunggangi kepentingan tertentu yang ‘menyembelih’ keluarga raja-raja Simalungun. Menyedihkan, sesama anak negeri saling membunuh.

Peristiwa puluhan tahun lalu itu ditenggarai sebagai tragedi memilukan yang traumatis. Tidak ada permintaan maaf dari siapapun. Bahkan Saragih Ras yang menjadi pemimpin gerakan tersebut, ketika ditanya oleh tokoh Simalungun Djariaman Damanik saat mereka bertemu di Tapanuli, mengatakan menyesal. Sampai sekarang, peristiwa tersebut dianggap sebagai penyebab kurang pastisipatifnya orang Simalungun dalam berpolitik. Benarkah demikian?
Setidaknya, hal itulah salah satu yang dicatat dalam biografi “Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi,” yang ditulis Khairiah Lubis, dengan editor Marim Purba, pengantar oleh Prof Dr Ir Bungaran Saragih, MEc dan diterbitkan oleh MitraMedia Communication, 264 hal, Medan, 2009.
Buku ini penting bagi anak Siantar, karena sangat sedikit anak-anak Siantar yang mendokumentasikan kisah masa lalunya. Padahal sejarah nasional mencatat begitu banyaknya tokoh asal Siantar yang ikut dalam pergerakan sejarah Indonesia. Buku biografi ini menggambarkan kisah Simalungun di masa lalu, kebudayaan Simalungun dan sejarahnya termasuk tragedi di atas yang dikenal dengan gerakan Barisan Harimau Liar (BHL). Sarmedi berpendapat bahwa fakta sejarah tentang BHL tersebut harus dibuka.
Menarik bahwa buku ini dimungkinkan berisi campur sari karena Dr Sarmedi Purba sengaja meminta penulisnya menceritakan kisah di sekeliling kehidupan Sarmedi. Dengan demikian bisa dihindari bahaya yang selama ini terjadi berubahnya ‘history’ menjadi ‘his story,’ yang seakan-akan cuma sikap narsis membicarakan diri sendiri.
Sarmedi memang orang yang tak sabar. Selain gelisah kesana-kemari memenuhi panggilan kemanusiaannya untuk orang sakit, tapi ia juga menyadari bahwa kesakitan sosial yang lebih luas ada di tengah masyarakat. Kurdet, demikian panggilan Dr Sarmedi akhirnya terjun di banyak kegiatan; pengabdian desa dan pembuatan instalasi air minum bersama Yayasan Bina Insani yang dibangunnya, membangun PMI, mendirikan Rumah Sakit Vita Insani, terlibat di Pelkesi (perkumpulan rumah sakit kristen), diskursus mengenai jaminan kesehatan, dan lain-lain.
Hidupnya dimulai dari Pematangraya, sebuah ‘desa’ 30 km dari Pematangsiantar, belajar di Sekolah Rakyat sambil juga bekerja di ladang. Ayahnya seorang penjaja obat keliling dari ‘pekan’ ke pekan, pasar tradisional yang hanya buka pada hari tertentu setiap minggu di berbagai tempat di Simalungun. Sekolahnya disela oleh peristiwa revolusi sosial 1946-1947 yang misterius, mengungsi dan pulih sampai kemudian ia SMP di Siantar.
Lengkingan pertama seorang bayi Sarmedi di Pematangraya, dibarengi juga kisah dan catatan mengenai sejarah keluarga, dan hal ini menggambarkan dengan tepat situasi kemasyarakatan Simalungun saat itu. Juga pada bagian ini disertakan juga catatan yang akan memberi perspektif baru bagi pembaca mengenai sejarah Simalungun. Beruntung karena Mansen Purba, SH seorang budayawan dan sejarawan Simalungun sempat ikut memberi kontribusi sebelum ia meninggal dunia, sebulan sebelum buku ini terbit.
Selanjutnya sekolah Sarmedi sampai di SMA Negeri 1 Medan adalah hal biasa, tapi mimpi yang memenuhi masa mudanya adalah tidak biasa. Tanda-tandanya dimulai sejak ia aktif memimpin kelompok pemuda di gereja GKPS, lalu aktif di organisasi ekstra universiter GMKI, termasuk kecerdesannya di kampus Fakultas Kedokteran USU. Katanya mengomentari candu organisasinya, “Kalau tidak berorganisasi rasanya seperti ada yang missing,”
Tapi faktanya itulah yang mendorong GKPS – atas sponsor sebuah lembaga mitra – mengirimnya ke Jerman untuk sekolah lanjut kedokteran. Akhirnya mimpi ke luar negeri menjadi kenyataan. Sebuah langkah yang langka di masa ke Indonesiaan saat itu yang baru lahir dan bertumbuh. Dalam catatan pengantarnya Prof Bungaran Saragih menggambarkan langkah Sarmedi ke Jerman telah menjadi inspirasi bagi anak sekolah lainnya untuk maju.
Yang menarik bahwa Sarmedi memilih tinggal dan mengabdi di desa. Padahal umur produktifnya membuka kesempatan untuk menjadi dokter mapan di ibukota. Obsesinya dari Jerman tentang perumahsakitan yang modern tetap tertanam di benaknya, walaupun ia jauh dari modernisasi. Itulah akhirnya yang mendorong berdirinya RS Vita Insani. Lalu kegiatan lainnya, termasuk memimpin partai di Sumatera Utara dilakukannya dari Siantar. Teknologi komunikasi dimanfaatkannya untuk menjadi jembatan informasi dengan ‘dunia luar’ yang lebih maju. Jarak tidak lagi menjadi hambatan.
Maka Sarmedi tampil sebagai sosok dokter yang punya perhatian sosial, ikut memecahkan masalah nasional dari perspektif lokal. Sekaligus menjadi manusia lokal trans nasional yang mengglobal. Sarmedi membuktikan bahwa partisipasi bisa dilakukan dari aras manapun, sepanjang ada komitmen, kesabaran dan ketekunan.
Kisah yang ditulis oleh Khairiah Lubis, mantan redaktur MedanBisnis begitu mengalir dan menonjolkan warna khas tulisan Awie, demikian panggilannya, yang lama mengelola features di edisi mingguan MedanBisnis dan MedanWeekly. Buku ini layak dibaca untuk membandingkan kisah meniti sukses di masa lalu dengan sekarang, khususnya dalam menjelmakan mimpi menjadi nyata. (***)

Wednesday, July 08, 2009

PILPRES 2009 - Komentar Sarmedi Purba

Akhirnya SBY terpilih jadi Presiden RI sesuai prediksi lembaga survey sejak 3 bulan yang lalu. Saya pernah mengatakan, kalau SBY mendapat 70% suara 3 bulan yl, perolehan ini bisa turun sampai 62% akibat campain dan paling jelek turun jadi 52% akibat black campain. Namun tetap berpotensi 1 putaran. Ternyata angka ini bertahan pada kisaran 60%.

Apa yang dapat kita petik dari hasil Pilpres 2009 ini?

Pertama, bangsa ini harus belajar mempercayai hasil survey yang profesional. Karena survey adalah ilmu pengetahuan (science) yang berdasar bukti. Siapa yang tidak percaya dan sering mencibir akan rugi sendiri. Dan kalau kita tidak percaya atas science, mengapa kita mengirim anak kita bersekolah setinggi-tingginya? Ini sudah sering saya utarakan dan sering pula diketawai orang tertentu.

Kedua, parpol dan politisi di Indonesia harus lebih banyak belajar dari pengalaman politik di dalam dan khususnya di luar negeri dalam kehidupan berdemokrasi.

Budaya mundur, prinsip bahwa tujuan lebih diutamakan dari ambisi pribadi, visi dan program parpol yang jelas dan rinci dalam segala bidang kehidupan harus lebih dipahami di Indonesia.

Sebagai ilustrasi -kalau sekiranya Megawati Sukarnoputri belajar dari pengunduran diri PM Inggeris,Margret Tatcher tahun 1990-PDIP seharusnya mengajukan capres baru sesudah kekalahan Mega pada Pilpres 2004. Partai ini seharusnya menciptakan image baru, visi baru dan program tandingan yang yang sekaligus mengkritik program SBY/JK selama ini.

Sebagai contoh, pada program kesehatan SBY dan Menkes banyak yang bisa dikritik: Jamkesmas yang tidak konform dengan UU SJSN, pengalihan Askeskin berbasis asuransi menjadi Jamkesmas berbasis dana sosial. Tapi tidak ada program tandingan yang dijadikan sebagai alternatif oleh PDIP atau team MegaPro. Artinya peluang ini tidak dimanfaatkan dan sayang sekali. Saya kira hal serupa terjadi pada bidang ekonomi (BLT, program kredit bank, pembangunan infrastruktur, dll), sosial, agama, militer, perhubungan, dll.

Pada debat capres dan cawapres perbedaan ini tidak muncul. Kita mendapat kesan semua ragu-ragu dan takut salah. Padahal perbedaan inilah inti dari demokrasi yang dilaksanakan pada Pilpres 2009 ini.

Ketiga, GOLKAR sebenarnya salah membaca perjalanan politik 2004-2009. Menurut saya amanat rakyat atas kinerja kabinet sekarang adalah: TERUSKAN. Tetapi Golkar mengobok-obok JK yang -menurut pendapat saya- tidak mempunyai visi politik yang jelas. DPD memaksa JK mencalonkan diri. Pada saat terakhir pasca Pemilu Legislatif JK menyesal dan masih mencoba bergabung dengan SBY kembali, tetapi nampaknya sudah terlambat. SBY menolak. Ini karena analisa politik Golkar ternyata salah. Salah satu sebabnya karena tidak memanfaatkan hasil survey. Padahal hasil Pemilu legislatif sudah lama diketahui, bahwa Partai Demokrat akan menang telak. Mengapa JK tidak didukung partainya mempererat koalisi dengan Partai Demokrat yang sebelum Pemilu legislatif masih terbuka lebar.

Dan Golkar sebagai partai yang paling mapan dan berpengalaman, juga tidak membekali JK dengan proram tandingan. Kalau sekiranya program tandingan ada, rakyat dapat menilai pada 2014 apakah pemilih sapi (salah pilih) atau tidak. Kabinet bayangan seyogianya juga memberikan semangat bertanding dan pilihan alternatif yang ampuh. Tetapi inipun tidak dimanfaatkan. Padahal PDIP pernah menjanjikannya.

Akhirnya harus disebutkan bahwa Pilpres 2009 harus diacungkan jempol karena sudah lebih baik dari Pilpres 2004, karena demikianlah proses demokratisasi ini bertambah baik seperti spiral yang berputar menuju ke atas. Kita tidak dapat mengharapkan teori lingkaran setan pada proses politik dalam rangka perbaikan demokrasi di Indonesia.

Friday, July 03, 2009

Mansen Purba Telah Tiada


BERITA DUKACITA
Telah dipanggil Bapa di Surga hari Kamis 2 Juli 2009 jam 22.10 di RS Martha Friska Medan, disemayamkan di rumah duka Jalan Karya 155 Medan
MANSEN PURBA SH
(72 Tahun)

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara 1971-1987
Ketua DPD HKTI Sumatera Utara, Wakil Sekjen DPP HKTI
Anggota Sinode Bolon/Majelis Gereja GKPS,
Dekan FH USI dan Sekretaris Yayasan Universitas Simalungun (USI),
Dosen FKIP Universitas Nommensen Pematangsiantar
Dosen IKIP Medan

Acara adat Simalungun dilaksanakan pada Minggu, 5 Juli 2009, Tonggo Raja 4 Juli 2009 jam 19.00 WIB
akan dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Sondiraya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun 6 Juli 2009, sesudah kebaktian di gereja GKPS Kongsi Laita Sondiraya jam 12.00 WIB.

Kami yang berduka cita :
Tuti Dora Rusnaini (Isteri)
Ir. Desendi Purba/Ir. Yuyu Suryasari, PhD
Drs. Marim Purba/Dra. Grace Christiane br Saragih
Ichtus Pujiontama Purba/Ernita
Lidya br Purba, SE/Drs. Jumpatuah Saragih, MSi
Hotmar Pangarapan/Movi Laila
Nikodemus Beriman, S.Psi, MM/Gloria Hosea, S.Psi
Irawan Atmadi Saputra/Rita br Simanjuntak, SE

Riahman Purba (Aman Raya),
Menna Purba (Jakarta),
Jawasman Purba (Sondiraya),
Dr. med. Sarmedi Purba, SpOG (P.Siantar)
Ned Riahman Purba (P.Siantar)
Sariaman Purba (Medan)

Saturday, June 20, 2009

Proses Hukum Demo Protap

Posted in Opini by Redaksi on Juni 16th, 2009
Oleh Dr Med dr Sarmedi Purba SpOG
Sejarah akan menceritakan di kemudian hari bagaimana manusia Indonesia anno 2009 di Sumatera Utara. Termasuk akan menceritakan sejarah penegakan hukum di Indonesia, penilaian polisi, jaksa dan hakim pada suatu kejadian biasa, semisal demo yang sejak reformasi yang diteriakkan sejak tahun 1998 dan lengsernya Soeharto.
Demo Protap sama seperti demo lain di tanah air sejak reformasi. Mengapa demo kali ini diistimewakan seakan-akan suatu demo yang luar biasa dan diperlakukan sebagai tindakan kriminal, pembunuhan berencana. Amien Rais pernah berkata (tidak tentang Protap) “Ayam pun ketawa”. Sekiranya ada hukum presedens di Indonesia seperti di Amerika, maka kalau demonstrator Protap dihukum sebagai pembunuh berencana, maka punahlah demokrasi di Indonesia; karena setiap demo berisiko pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati karena angka kematian pejabat yang mengidap jantung koroner meningkat dengan meningkatnya kesejahteraan. Akankah?
Lantas di mana hati nurani polisi, jaksa dan hakim pada sejarah hukum dan demokrasi pada buku sejarah yang diterbitkan di tahun 2025. Kasus Ibu Prita akan diceritakan sejarah Indonesia modern itu, malah lebih kejam dari itu adalah menjatuhkan hukuman mati kepada otak aksi demo karena dikenakan pasal pembunuhan berencana.
Saya percaya dan yakin bahwa dalam hati kecil polisi, jaksa dan hakim yang aktif pada bulan Juni 2009, di seluruh Indonesia, perlakuan itu tidak adil, tidak sesuai dengan amanat hati nurani rakyat yang dengan rahmat TYME merupakan dasar pembentukan UU oleh wakil rakyat di DPR. Akankah amanat UU dan hati nurani rakyat itu akan dikhianati Penegak HUKUM Anno 2009, akan ditoreh dalam sejarah Indonesia modern.
Skenario terburuk pada proses hukum para pejuang pemekaran wilayah (dalam kasus ini pembentukan daerah otonomi Provinsi Tapanuli yang diamanatkan oleh UU Otonomi Daerah No 22 thn 1999 dan no 32 Thn 2004) di Indonesia adalah kalau pejuang yang sekarang masuk bui ini, benar dihukum mati sesuai ancaman hukuman pada pembunuhan berencana. Akankah ada mati martir seperti zaman dahulu kala? Apakah mati martir itu akan membangkitkan semangat juang tokoh pemekaran wilayah yang dengan tulus tidak sabar melihat perkembangan/pembangunan yang berjalan lamban, kemiskinan yang makin meluas dan mencekam? Dan bagaimana masyarakat Tapanuli yang merasa hak-haknya diinjak-injak? Terjadikah pergolakan atau revolusi sosial kembali? Bagaimana pula solidaritas pejuang pemekaran lain khususnya di Sumut, seperti pelopor Provinsi Sumatera Timur, Provinsi Sumatera Tenggara, Provinsi Nias dan kelak Provinsi Simalungun (kalau dimekarkan jadi 4 kabupaten seperti Taput dulu)? Apakah pejuang pemekaran Simalungun, Pemekaran Tanah Karo (Kota Berastagi) juga tinggal diam? Apakah pejuang pemekaran Kabupaten Batubara, Labuhan Batu Selatan, Serdang Bedagei, Pakpak Bharat yang perjuangannya sama, tinggal diam sambil senyum senang atas penderitaan Protap, karena mereka sendiri sudah menikmati apa yang mereka perjuangkan, yaitu daerah otonomi baru yang membuka kesempatan membangun daerahnya dengan kecepatan yang lebih tinggi?
Marilah kita tefakur sejenak menanyakan diri kita masing-masing dan menanyakan pada diri kita sekiranya kita bernama Chandra Panggabean, Tahan Panggabean, Datumira Simanjuntak, Gelmok Samosir, Burhanuddin Rajagukguk, Pustaha Nurdin Manurung, untuk menyebut beberapa nama dari banyak lagi nama. Karena dalam Injil tertulis: “buatlah kepada orang lain seperti apa yang engkau inginkan diperbuat orang lain terhadap dirimu.”
Dr med dr Sarmedi Purba SpOG
Ketua PIKI Kota Siantar
Ketua PMI Siantar Simalungun
Ketua Perhimpunan Alumni Jerman Kota Siantar
Ketua Dewan Pakar DPC Partai Demokrat Kab Simalungun
Mantan Ketua DPD PDKB Sumut
Ketua Umum Forum Dokter Pembanding se Indonesia
Anggota Dewan Pembina Panitia Pemekaran Kabupaten Simalungun
Ketua Bidang BPC GMKI Medan 1960-1964
Wakil Ketua DPD GAMKI Sumut 1963-64 (f)
This entry was posted on Selasa, Juni 16th, 2009 at 02:01 and is filed under Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Saturday, May 30, 2009

MALAM RENUNGAN AIDS NUSANTARA 2009





Event tahunan campain pencegahan AIDS kepada masyarakat dengan orasi KPA, Medan Plus, CRA Foundation, Ketua PMI dan Walikota di Lapangan Parkir Pariwisata Siantar 30 Mei 2009:
ODHA BUKAN UNTUK DIJAUHI
JANGAN BIARKAN ODHA HIDUP MENYENDIRI
BERSAMA ODHA MARI MENYAMBUT HARI ESOK YANG LEBIH CERAH
Motto: TOGETHER WE ARE THE SOLUTION