Friday, November 20, 2009

Todays Press Reports on PEMEKARAN SIMALUNGUN





Labels:

Monday, September 21, 2009

Masukan untuk Seminar Nasional Universitas Simalungun

Masukan untuk
SEMINAR NASIONAL
PASCA SARJANA UNIVERSITAS SIMALUNGUN
3 Oktober 2009
Dari RS Vita Insani Jalan Merdeka 329 Pematangsiantar
www.vita-insani.co.id

Dengan dasar pemikiran bahwa hanya daerah dan lingkungan yang sehat dapat dikembangkan perekonomian, pendidikan dan kehidupan yang sehat, maka fokus usulan kami adalah memberikan jalan agar dasar kehidupan masyarakat harus sehat.

Dasar itu adalah kondisi sehat untuk rumah, lingkungan rumah, udara dan air di mana penduduk bermukim. Memang kesehatan itu bukan segalanya, namun tanpa kesehatan semuanya akan menjadi sia-sia.

Dengan melihat kondisi kota Siantar saat ini usulan yang perlu kiranya dipertimbangkan adalah sbb:
1. Semua selokan air diubah menjadi sistem tertutup (seperti yang sudah dikonsep sejak zaman Belanda di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka). Sebenarnya peradaban diawali dengan pembuatan sistem riolisasi (zaman Romawi 2000 tahun lalu). Sistem selokan terbuka seperti di Siantar mengundang banyak penaykit, khususnya yang aktual adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).
2. Pembangunan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) kota Pematangsiantar. Seluruh air limbah disatukan dalam satu sistem, di mana air limbah dipool, diproses sehingga tidak beracun, tidak menyebarkan penyakit, artinya dibersihkan minimal 50% baru dibuang ke sungai. Untuk mendukungnya perlu pengolahan limbah padat yang dapat memproduksi pupuk buatan (sudah berjalan sebagian).
3. Pengumpulan dan transportasi sampah rumah tangga secara tertutup. Warga diwajibkan mengumpul sampah rumah tangga dalam keadaan tertutup, dalam kantongan atau tempat sampah tertutup rapat, diangkut dengan truk sampah tertutup dan dikumpulkan di tempat pembuangan akhir yang memenuhi syarat kesehatan.
4. Mewajibkan PAM memproduksi air minum yang benar-benar laik untuk diminum, bebas dari kuman dan zat kimia yang membahayakan kesehatan. Teknologi untuk itu sudah lama tersedia dan tidak susah diperoleh.
5. Semua jalan harus dibangun dengan perangkat lokasi pedestrian, sehingga pejalan kaki mempunyai jalur sendiri, tidak berebutan jalurdengan kenderaan. Pedestrian yang ada di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka harus dirapikan, dibebaskan dari parkiran kenderaan roda dua.
6. Pemindahan sebagian aktivitas Pasar Horas ke pasar yang baru di lokasi baru, dilaksanakan dengan sistematis dan memberikan nilai tambah untuk para pedagang, termasuk pedagang kaki lima.
7. Meniru sistem kota modern di negara yang lebh maju, Siantar diusulkan membuat jalan Sutomo dan Jalan Merdeka Atas menjadi daerah shopping area yang dibenahi secara modern, dengan memperhatikan kenyamanan, keamanan berbelanja. Untuk itu dibutuhkan lokasi parkir atau gedung perparkiran baru, jalan bypass yang mengelilinginya, kalau perlu sebagian dibawah tanah.
8. Terakhir adalah sistem asuransi kesehatan untuk seluruh warga Siantar. Ini sesuai dengan UU Kesehatan yang baru disahkan DPR RI 14 September lalu. Selain Jamkesmas, Jamsostek, Askes PNS dan Askes perusahaan swasta, bank dan PTPN, setiap warga diwajibkan menjadi anggota asuransi kesehatan. Untuk golongan kurang mampu, disubsidi melalui APBD secara bertahap, untuk yang mampu diwajibkan untuk bayar sendiri.


Sebagian upaya ini sebaiknya didukung dengan PERDA, sebagian dengan SK Walikota.

Pematangsiantar, 18 September 2009

Monday, August 17, 2009

Sarmedi Purba Titian Nadi Sang Dokter Pelangi



Memperingatai HUT 70 Sarmedi Purba telah diluncurkan Film dengan judul Titian Nadi Sang Dokter Pelangi karya sutradara Onny Kresnawan. Film dokumnter yang berdurasi 52 menit ini adalah hasil karya Onny Kresnawan (Sineas Film Documentary - SFD) yang pernah mnggondol juara 3 lomba film dokumnter nasional.

Dengan judul yang sama telah diluncurkan pula pada perayaan HUT tanggal 15 Agusustus itu satu buku berisi 239 halaman dihiasi dengan lk 50 foto jadul dan masa kini dengan lay out yang menarik. Buku ini adalah karya wartawan penulis kondang Medan, Khairiah Lubis dengan fotografer Binsar Bakkara dan designer Vinsensius Sitepu.

Info komersial:
Sekarang buku dan film berjudul
Sarmedi Purba Titian Nadi Dokter Pelangi
tersedia di toko buku kesayangan anda dan kalau stok habis bisa di pesan ke
John Sardi Purba
Kotak Pos 182
Pematangsiantar 21100
email: johnsardipurba@yahoo.com
harga 1 buku Sarmedi Purba Titian Nadi Dokter Pelangi
253 halaman dengan 50 foto jadul dan terkini
Rp 65.000 (+ongkos kirim Rp 20.000)
harga 1 DVD Sarmedi berdurasi 55 menit Rp35.000 (+ongkos kirim Rp20.000).
Bank account:
BCA AC 8200053185
Bank Mandiri AC 1070002129437

info lebih lanjut di http://sarmedipurba.blogspot.com/

Labels:

Wednesday, August 12, 2009

Resensi Buku Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi


“Mencari Harimau Liar”

Sangat kurang informasi mengenai revolusi sosial di Simalungun pada tahun 1946. Sebagian besar tak setuju jika hal tersebut dianggap revolusi. Tapi faktanya ada sekelompok orang yang ditunggangi kepentingan tertentu yang ‘menyembelih’ keluarga raja-raja Simalungun. Menyedihkan, sesama anak negeri saling membunuh.

Peristiwa puluhan tahun lalu itu ditenggarai sebagai tragedi memilukan yang traumatis. Tidak ada permintaan maaf dari siapapun. Bahkan Saragih Ras yang menjadi pemimpin gerakan tersebut, ketika ditanya oleh tokoh Simalungun Djariaman Damanik saat mereka bertemu di Tapanuli, mengatakan menyesal. Sampai sekarang, peristiwa tersebut dianggap sebagai penyebab kurang pastisipatifnya orang Simalungun dalam berpolitik. Benarkah demikian?
Setidaknya, hal itulah salah satu yang dicatat dalam biografi “Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi,” yang ditulis Khairiah Lubis, dengan editor Marim Purba, pengantar oleh Prof Dr Ir Bungaran Saragih, MEc dan diterbitkan oleh MitraMedia Communication, 264 hal, Medan, 2009.
Buku ini penting bagi anak Siantar, karena sangat sedikit anak-anak Siantar yang mendokumentasikan kisah masa lalunya. Padahal sejarah nasional mencatat begitu banyaknya tokoh asal Siantar yang ikut dalam pergerakan sejarah Indonesia. Buku biografi ini menggambarkan kisah Simalungun di masa lalu, kebudayaan Simalungun dan sejarahnya termasuk tragedi di atas yang dikenal dengan gerakan Barisan Harimau Liar (BHL). Sarmedi berpendapat bahwa fakta sejarah tentang BHL tersebut harus dibuka.
Menarik bahwa buku ini dimungkinkan berisi campur sari karena Dr Sarmedi Purba sengaja meminta penulisnya menceritakan kisah di sekeliling kehidupan Sarmedi. Dengan demikian bisa dihindari bahaya yang selama ini terjadi berubahnya ‘history’ menjadi ‘his story,’ yang seakan-akan cuma sikap narsis membicarakan diri sendiri.
Sarmedi memang orang yang tak sabar. Selain gelisah kesana-kemari memenuhi panggilan kemanusiaannya untuk orang sakit, tapi ia juga menyadari bahwa kesakitan sosial yang lebih luas ada di tengah masyarakat. Kurdet, demikian panggilan Dr Sarmedi akhirnya terjun di banyak kegiatan; pengabdian desa dan pembuatan instalasi air minum bersama Yayasan Bina Insani yang dibangunnya, membangun PMI, mendirikan Rumah Sakit Vita Insani, terlibat di Pelkesi (perkumpulan rumah sakit kristen), diskursus mengenai jaminan kesehatan, dan lain-lain.
Hidupnya dimulai dari Pematangraya, sebuah ‘desa’ 30 km dari Pematangsiantar, belajar di Sekolah Rakyat sambil juga bekerja di ladang. Ayahnya seorang penjaja obat keliling dari ‘pekan’ ke pekan, pasar tradisional yang hanya buka pada hari tertentu setiap minggu di berbagai tempat di Simalungun. Sekolahnya disela oleh peristiwa revolusi sosial 1946-1947 yang misterius, mengungsi dan pulih sampai kemudian ia SMP di Siantar.
Lengkingan pertama seorang bayi Sarmedi di Pematangraya, dibarengi juga kisah dan catatan mengenai sejarah keluarga, dan hal ini menggambarkan dengan tepat situasi kemasyarakatan Simalungun saat itu. Juga pada bagian ini disertakan juga catatan yang akan memberi perspektif baru bagi pembaca mengenai sejarah Simalungun. Beruntung karena Mansen Purba, SH seorang budayawan dan sejarawan Simalungun sempat ikut memberi kontribusi sebelum ia meninggal dunia, sebulan sebelum buku ini terbit.
Selanjutnya sekolah Sarmedi sampai di SMA Negeri 1 Medan adalah hal biasa, tapi mimpi yang memenuhi masa mudanya adalah tidak biasa. Tanda-tandanya dimulai sejak ia aktif memimpin kelompok pemuda di gereja GKPS, lalu aktif di organisasi ekstra universiter GMKI, termasuk kecerdesannya di kampus Fakultas Kedokteran USU. Katanya mengomentari candu organisasinya, “Kalau tidak berorganisasi rasanya seperti ada yang missing,”
Tapi faktanya itulah yang mendorong GKPS – atas sponsor sebuah lembaga mitra – mengirimnya ke Jerman untuk sekolah lanjut kedokteran. Akhirnya mimpi ke luar negeri menjadi kenyataan. Sebuah langkah yang langka di masa ke Indonesiaan saat itu yang baru lahir dan bertumbuh. Dalam catatan pengantarnya Prof Bungaran Saragih menggambarkan langkah Sarmedi ke Jerman telah menjadi inspirasi bagi anak sekolah lainnya untuk maju.
Yang menarik bahwa Sarmedi memilih tinggal dan mengabdi di desa. Padahal umur produktifnya membuka kesempatan untuk menjadi dokter mapan di ibukota. Obsesinya dari Jerman tentang perumahsakitan yang modern tetap tertanam di benaknya, walaupun ia jauh dari modernisasi. Itulah akhirnya yang mendorong berdirinya RS Vita Insani. Lalu kegiatan lainnya, termasuk memimpin partai di Sumatera Utara dilakukannya dari Siantar. Teknologi komunikasi dimanfaatkannya untuk menjadi jembatan informasi dengan ‘dunia luar’ yang lebih maju. Jarak tidak lagi menjadi hambatan.
Maka Sarmedi tampil sebagai sosok dokter yang punya perhatian sosial, ikut memecahkan masalah nasional dari perspektif lokal. Sekaligus menjadi manusia lokal trans nasional yang mengglobal. Sarmedi membuktikan bahwa partisipasi bisa dilakukan dari aras manapun, sepanjang ada komitmen, kesabaran dan ketekunan.
Kisah yang ditulis oleh Khairiah Lubis, mantan redaktur MedanBisnis begitu mengalir dan menonjolkan warna khas tulisan Awie, demikian panggilannya, yang lama mengelola features di edisi mingguan MedanBisnis dan MedanWeekly. Buku ini layak dibaca untuk membandingkan kisah meniti sukses di masa lalu dengan sekarang, khususnya dalam menjelmakan mimpi menjadi nyata. (***)

Labels:

Monday, July 20, 2009

My photos before 70 (7 photos), by sarmedi Purba


I'd like to share my Snapfish photos with you. Once you have checked out my photos you can order prints and upload your own photos to share.
http://www2.snapfish.com/fbshareredirect/p=941201248074291057/l=1195094023/g=1320361023/redirectURL=share/otsi=SALBBL/AlbumID=1087753023/a=1320361023_1320361023/usercomments=I_xqd%20like%20to%20share%20my%20Snapfish%20photos%20with%20you.%20Once%20you%20have%20checked%20out%20my%20photos%20you%20can%20order%20prints%20and%20upload%20your%20own%20photos%20to%20share./counttext=7%20photos/COBRAND_NAME=snapfish

Wednesday, July 08, 2009

PILPRES 2009 - Komentar Sarmedi Purba

Akhirnya SBY terpilih jadi Presiden RI sesuai prediksi lembaga survey sejak 3 bulan yang lalu. Saya pernah mengatakan, kalau SBY mendapat 70% suara 3 bulan yl, perolehan ini bisa turun sampai 62% akibat campain dan paling jelek turun jadi 52% akibat black campain. Namun tetap berpotensi 1 putaran. Ternyata angka ini bertahan pada kisaran 60%.

Apa yang dapat kita petik dari hasil Pilpres 2009 ini?

Pertama, bangsa ini harus belajar mempercayai hasil survey yang profesional. Karena survey adalah ilmu pengetahuan (science) yang berdasar bukti. Siapa yang tidak percaya dan sering mencibir akan rugi sendiri. Dan kalau kita tidak percaya atas science, mengapa kita mengirim anak kita bersekolah setinggi-tingginya? Ini sudah sering saya utarakan dan sering pula diketawai orang tertentu.

Kedua, parpol dan politisi di Indonesia harus lebih banyak belajar dari pengalaman politik di dalam dan khususnya di luar negeri dalam kehidupan berdemokrasi.

Budaya mundur, prinsip bahwa tujuan lebih diutamakan dari ambisi pribadi, visi dan program parpol yang jelas dan rinci dalam segala bidang kehidupan harus lebih dipahami di Indonesia.

Sebagai ilustrasi -kalau sekiranya Megawati Sukarnoputri belajar dari pengunduran diri PM Inggeris,Margret Tatcher tahun 1990-PDIP seharusnya mengajukan capres baru sesudah kekalahan Mega pada Pilpres 2004. Partai ini seharusnya menciptakan image baru, visi baru dan program tandingan yang yang sekaligus mengkritik program SBY/JK selama ini.

Sebagai contoh, pada program kesehatan SBY dan Menkes banyak yang bisa dikritik: Jamkesmas yang tidak konform dengan UU SJSN, pengalihan Askeskin berbasis asuransi menjadi Jamkesmas berbasis dana sosial. Tapi tidak ada program tandingan yang dijadikan sebagai alternatif oleh PDIP atau team MegaPro. Artinya peluang ini tidak dimanfaatkan dan sayang sekali. Saya kira hal serupa terjadi pada bidang ekonomi (BLT, program kredit bank, pembangunan infrastruktur, dll), sosial, agama, militer, perhubungan, dll.

Pada debat capres dan cawapres perbedaan ini tidak muncul. Kita mendapat kesan semua ragu-ragu dan takut salah. Padahal perbedaan inilah inti dari demokrasi yang dilaksanakan pada Pilpres 2009 ini.

Ketiga, GOLKAR sebenarnya salah membaca perjalanan politik 2004-2009. Menurut saya amanat rakyat atas kinerja kabinet sekarang adalah: TERUSKAN. Tetapi Golkar mengobok-obok JK yang -menurut pendapat saya- tidak mempunyai visi politik yang jelas. DPD memaksa JK mencalonkan diri. Pada saat terakhir pasca Pemilu Legislatif JK menyesal dan masih mencoba bergabung dengan SBY kembali, tetapi nampaknya sudah terlambat. SBY menolak. Ini karena analisa politik Golkar ternyata salah. Salah satu sebabnya karena tidak memanfaatkan hasil survey. Padahal hasil Pemilu legislatif sudah lama diketahui, bahwa Partai Demokrat akan menang telak. Mengapa JK tidak didukung partainya mempererat koalisi dengan Partai Demokrat yang sebelum Pemilu legislatif masih terbuka lebar.

Dan Golkar sebagai partai yang paling mapan dan berpengalaman, juga tidak membekali JK dengan proram tandingan. Kalau sekiranya program tandingan ada, rakyat dapat menilai pada 2014 apakah pemilih sapi (salah pilih) atau tidak. Kabinet bayangan seyogianya juga memberikan semangat bertanding dan pilihan alternatif yang ampuh. Tetapi inipun tidak dimanfaatkan. Padahal PDIP pernah menjanjikannya.

Akhirnya harus disebutkan bahwa Pilpres 2009 harus diacungkan jempol karena sudah lebih baik dari Pilpres 2004, karena demikianlah proses demokratisasi ini bertambah baik seperti spiral yang berputar menuju ke atas. Kita tidak dapat mengharapkan teori lingkaran setan pada proses politik dalam rangka perbaikan demokrasi di Indonesia.

Labels:

Friday, July 03, 2009

Mansen Purba Telah Tiada


BERITA DUKACITA
Telah dipanggil Bapa di Surga hari Kamis 2 Juli 2009 jam 22.10 di RS Martha Friska Medan, disemayamkan di rumah duka Jalan Karya 155 Medan
MANSEN PURBA SH
(72 Tahun)

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara 1971-1987
Ketua DPD HKTI Sumatera Utara, Wakil Sekjen DPP HKTI
Anggota Sinode Bolon/Majelis Gereja GKPS,
Dekan FH USI dan Sekretaris Yayasan Universitas Simalungun (USI),
Dosen FKIP Universitas Nommensen Pematangsiantar
Dosen IKIP Medan

Acara adat Simalungun dilaksanakan pada Minggu, 5 Juli 2009, Tonggo Raja 4 Juli 2009 jam 19.00 WIB
akan dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Sondiraya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun 6 Juli 2009, sesudah kebaktian di gereja GKPS Kongsi Laita Sondiraya jam 12.00 WIB.

Kami yang berduka cita :
Tuti Dora Rusnaini (Isteri)
Ir. Desendi Purba/Ir. Yuyu Suryasari, PhD
Drs. Marim Purba/Dra. Grace Christiane br Saragih
Ichtus Pujiontama Purba/Ernita
Lidya br Purba, SE/Drs. Jumpatuah Saragih, MSi
Hotmar Pangarapan/Movi Laila
Nikodemus Beriman, S.Psi, MM/Gloria Hosea, S.Psi
Irawan Atmadi Saputra/Rita br Simanjuntak, SE

Riahman Purba (Aman Raya),
Menna Purba (Jakarta),
Jawasman Purba (Sondiraya),
Dr. med. Sarmedi Purba, SpOG (P.Siantar)
Ned Riahman Purba (P.Siantar)
Sariaman Purba (Medan)

Labels: