Saturday, December 08, 2007

PESTA NATAL ANAK NIAS/WEIHNACHTSFEIER DER NIASKINDER

PESTA NATAL ANAK NIAS
Perayaan Natal di Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias Pematangsiantar dilaksanakan dengan sederhana 8 Desember 2007. Kesederhanaan ini tidak mengurangi kegembiraan 20 anak Nias yang diasuh Yayasan Bina Insani dengan bantuan Lions Club Gelnhausen, Wurmberg dan Masyarakat Indonesia Jerman Eschborn yang masing-masing dipimpin oleh Prof. Wolfgang Koenig, Herr Wolfgang Amann dan Herr Rusdin Sumbajak dari Jerman.

Kegembiraan mereka tergambar di wajah-wajah mereka terutama karena mereka akan pulang kampung 18 Desember 2007 ini untuk libur Natal dan Tahun Baru di Pulau Nias.

Pada kesempatan perayaan Natal yang dipimpin oleh Ibu Asramna Nona Dewi Damanik dan Pendeta Berlian Saragih, rasa terima kasih mereka disampaikan kepada tamu-tamu yang hadir, khususnya kepada teman seiman di Jerman yang bersusahpayah mengumpulkan dana untuk membiayai sekolah mereka di berbagai sekolah SD, SMP dan SMA di Pematangsiantar. Hadir pada kesempatan tersebut Dr Sarmedi Pruba (Ketua Yayasan), Caroline Pinatauli (Direktur Eksekutif Bina Insani) dan semua pengasuh beserta tetangga Asrama Nias.

WEIHNACHTSFEIER DER NIASKINDER
Weihnachten werden auch im Kinderheim der Tsunami-Opfer der Insel Nias in Pematangsiantar gefeiert. Es fand am 8. Dezember 2007 im Kinderheim stat. Die Einfachheit der Feierlichkeit mindert nicht die Froehlichkeit der Kinder, die von der Stiftung Bina Insani mit Hilfe von Lions Club Gelnhausen, Wurmberg und Deutsch Indonesischer Gesellschaft unterstuetzt werden.

Die glueckliche Stimmung sieht man in Gesichtern der Kinder, zumal sie am 18. Dezember 2007 nach Hause fahren duerfen, um Weihnachtsferien mit ihren Eltern und Verwandten auf der Insel Nias zu verbringen.

Ihre dankbare Gefuehle druecken die Kinder auch in der Rede ihres Vertreters an alle Seiten, die ihnen geholfen haben, aus, vor allem an die deutschen Freunde, die so grosse Muehe und Strebsamkeit haben, Geld fuer ihre Schulausbildung in der Grund-, Mittel- und Oberschule in Siantar zu sammeln. Anwesend bei der Feierlichkeit sind auch Dr. Sarmedi Purba, Vorsitzender und Caroline Pinatauli, Executive Director der Stiftung Bina Insani
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Liturgie anak Nias/Bibelverse Vorlesen von Niaskindern

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Liturgi Bersama menggambarkan keragaman masyarakat yang difokuskan kepada arti Natal/Gemeinsames Vorlesen von Weihanchtsgruesse, um die Bedeutung der Geburt Christi zu betonen

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Foto bersama dengan pengasuh Asrama Anak/Gemeinsames Foto mit Gaesten

Friday, November 23, 2007

Komentar Sarmedi Purba Tentang Pendirian PD Agromadear

Kritik terhadap pendirian PD Agromadear – Pemkab Simalungun:

1. secara prinsip (baca: ideologis) pendirian perusahaan negara atau perusahaan pemerintah daerah tidak lagi relevan dan ketinggalan zaman. Mengapa? Karena cara ini sudah lama ditinggalkan dan diganti dengan pemberian kesempatan kepada investor swasta untuk menjalankan usaha yang bersifat komersial. Hal ini karena asumsi tentang sifat universal manusia, bahwa hanya kalau orang memiliki sendiri perusahaan itu, maka perusahaan itu bisa berjalan baik, tidak kalau dimiliki negara atau komunitas yang bersifat publik. Manusia itu akan mengatakan mengapa saya harus kerja keras membangun perusahaan ini kalau saya hanya menerima gaji dan bonus tahunan saja?

Ini dibuktikan dengan sistim sosialis komunis yang dipraktekkan di Eropah Timur (termasuk Uni Sovyet) dan Cina sebelum tahun 1990. Semua perusahaan yang dikelola pemerintah itu bangkrut dan karena semua perusahaan bangkrut maka nagaranya pun bangkrut (yang paling cocok sebagai contoh adalah DDR/Jerman Timur dulu).

Karena pengetahuan tentang sifat hakiki manusia itulah, sejak dini di Eropa dilakukan privatisasi perusahaan negara. Tahun 70-an sudah dilakukan oleh Margret Thatcher di Inggeris yang kemudian diikuti oleh Uni Eropa. Perusahaan kereta api, Penerbangan, Listrik, Kantor Pos dikelola oleh pihak swasta dalam arti kata sahamnya dijual kepada pemodal/investor. Dengan demikian perusahaan-perusahaan itu bekerja lebih efisien dan tidak melakukan kebijakan perusahaan yang bertentangan dengan prinsip ekonomi perusahaan yang sehat. Pemerintah hanya menentukan aturan main mewakili rakyat dan untuk melindungi rakyat.

Di Indonesia privatisasi juga sudah dimulai dan sudah menjadi kebijakan umum pemerintah R.I. sejak zaman Orde Baru. Cuma lebih gencar sesudah era reformasi pasca Orba. Karena itulah saham Indosat dan Telkom ditawarkan kepada investor, termasuk investor asing. Perusahaan Perkebunan (PTPN) sudah lama mau dijual kepada swasta tapi masih tertunda-tunda karena katanya belum siap, takut harganya terlalu murah. Tiap tahun rombongan petinggi negara mengadakan road show ke luar negeri untuk mengundang investor datang ke Indonesia. Ini karena pemerintah mengetahui, hanya dengan investasi saja produk bruto sosial (yang merupakan parameter perkembangan ekonomi dan kemakmuran rakyat) bisa ditingkatkan.
2. Sejauh yang dapat kita tangkap dari pemberitaan media, PT Agromadear didirikan Pemkab Simalungun untuk mengontrol harga hasil pertanian di Simalungun. Sedang menurut kenyataannya daya saing petani rendah karena infrastruktur yang belum memadai di Simalungun, yaitu jalan yang rusak, jalan yang belum tembus ke banyak daerah terpencil di berbagai kecamatan. Belum ada jalan dari P. Siantar ke ibukota Kecamatan Rayakahean dan Daologsilau, belum ada jalan ke 6 desa di Kecamatan Raya (hasil bumi diangkat di atas kepada atau dengan kereta gojos/ditarik kerbau tanpa perangkat roda) merupakan contoh nyata untuk ini.

Dan yang kita ketahui, masalah pengendalian harga bukanlah masalah lokal di kabupaten Simalungun tetapi masalah regional provinsi Sumatera Utara atau Sumatera Bagian Utara. Bagaimana misalnya PD Agromadear bisa mengontrol harga di Simalungun kalau dia tidak mempunyai wewenang mengontrol harga produk hasil bumi di Kabupaten Karo dan Dairi?

Kontrol harga yang efektif dan realistis hanya masuk akal kalau pemerintah daerah menjamin harga dasar (floor price) hasil bumi, misalnya kalau harga dasar sayur kol dari Saribudolok Rp 10 ribu per kilogram, maka kalau harga jatuh menjadi Rp 7ribu, pemerintah tetap membayar kepada petani sebesar Rp 10 ribu dan menjualnya ke daerah lain (atau membuangnya ke laut sesudah dibeli dari petani – ini pernah dilakukan di Eropa). Nah, ini bisa dilakukan dinas pertanian tanpa membentuk PD, misalnya dengan memberikan subsidi harga kepada petani. Sebagai catatan, Bulog sebenarnya mempunyai konsep yang sama untuk mengendalikan harga. Tapi nyatanya tidak pernah berhasil karena selain sumber korupsi dan keberpihakan Bulog pada konsumen beras di kota (bukan pada petani), maka petani padi tetap miskin. Kritik kita apakah Pemkab atau Bupati Simalungun mengasumsikan bahwa pengelola PD Agromadear lebih piawai dari BULOG? Apakah sudah ada Perusahaan Daerah (PD) yang bisa diambil sebagai panutan keberhasilan di daerah ini, sehingga kelayakan pendirian PD Agromadear ada pembenarannya. Setahu masyarakat PDAM (Air Minum) di Siantar dan Simalungun sejak berpuluh tahun menjadi beban pemerintah daerah (baca: rakyat).

3. Keterlibatan lembaga pendidikan USU Medan dalam menentukan kebijakan ekonomi Pemkab Simalungun nampaknya kurang pas. Karena USU tidak mempunyai pengalaman menjalankan perusahaan, yang dikelola lembaga ini hanya penelitian ilmiah dan hanya merupakan teori belaka. Nasehat yang lebih baik adalah dari lembaga manajemen yang sudah terbukti memberikan konsep penataan perusahaan swasta yang memberikan profit dan keberhasilan pengembangan yang berkesinambungan.
4. Karena PD Agromadear sudah disahkan dan dilantik pengurusnya, yang bisa kita harapkan evaluasi kinerja perusahaan ini. Kalau dalam tempo 1-2 tahun tidak mengahsilkan apa-apa untuk kepentingan rakyat dan perusahaan daerah sendiri, harus cepat-cepat dibubarkan agar tidak menjadi beban anggaran Kabupaten Simalungun di masa depan. Sebab yang dipakai mereka sebagai modal adalah uang rakyat lho...


Ketinggalan Zaman, Pendirian PD Agromader Simalungun Dikritik
SIB Nop 28
Tokoh masyarakat Simalungun yang juga Dewan pakar Partai Demokrat Simalungun Dr Sarmedi Purba mengkritik pendirian PD (Perusahaan Daerah) Agromadear oleh Pemkab Simalungun. Menurutnya, Pendirian PD itu sesuatu yang sudah ketinggalan jaman dan akan menjadi beban anggaran dalam APBD Simalungun nantinya. Secara prinsip, pendirian perusahaan negara atau daerah tidak lagi relevan, karena cara ini sudah lama ditinggalkan dan diganti dengan pemberian kesempatan pada investor swasta untuk menjalankan usaha yang bersifat komersial, karena asumsi tentang sifat universal manusia.
Karena itu, sejak dini di Eropa dilakukan privatisasi perusahaan negara. Tahun 70-an sudah dilakukan oleh Margaret Thatcher di Inggris yang kemudian diikuti oleh Uni Eropa. Perusahaan kereta api, penerbangan, listrik dan kantor pos dikelola oleh pihak swasta dalam arti kata sahamnya dijual kepada pemodal, dengan demikian perusahaan itu bekerja lebih baik, efisian dan tidak melakukan kebijakan perusahaan yang bertentangan dengan prinsip ekonomi perusahaan sehat, sedang pemerintah hanya menentukan aturan main mewakili rakyat dan untuk melindungi rakyat.
Bahkan pemerintah RI sendiri sejak orde baru sudah memulai privatisasi, cuma lebih gencar sesudah era reformasi. Karena itulah saham Telkom ditawarkan kepada investor, termasuk investor asing. PTPN sudah lama mau dijual kepada swasta, tapi masih tertunda-tunda karena katanya belum siap, takut harganya terlalu murah. Tiap tahun rombongan petinggi negara mengadakan “road show” ke luar negeri untuk mengundang investor datang ke Indonesia. Ini karena pemerintah RI mengetahui hanya dengan investasi saja produk bruto sosial bisa ditingkatkan, kata Sarmedi Purba kepada SIB, Sabtu (24/11) sore.
“Justru, kini Pemkab Simalungun mendirikan PD Agromadear yang tujuannya (kita baca di media) untuk mengontrol harga hasil pertanian di Simalungun. Sedangkan menurut kenyataannya daya saing petani rendah karena infrastruktur yang belum memadai di Simalungun, yakni jalan yang rusak, belum tembus ke banyak daerah terpencil diberbagai kecamatan. Belum ada jalan dari P Siantar ke ibukota Kecamatan Rayakahean dan Dolok Silau. Belum ada jalan ke 6 desa di Raya sehingga hasil bumi diangkut dengan kereta gojos kerbau,” kata Purba.
Menurut Purba, pengendalian harga bukanlah masalah lokal di Simalungun, tapi masalah regional propinsi Sumut. Bagaimana, misalnya PD Agromadear bisa mengontrol harga di Simalungun kalau dia tidak mempunyai wewenang mengontrol harga produk hasil bumi di Kabupaten Karo dan Dairi? Kontrol harga yang efektif dan realistis, kalau pemerintah daerah menjamin harga dasar (floor price) hasil bumi, misalnya kalau harga dasar sayur kol dari Saribudolok Rp 10 ribu/kg, maka kalau harga jatuh menjadi Rp 7 ribu/kg, pemerintah tetap membayar kepada petani Rp 10 ribu/kg dan menjualnya ke daerah lain. Ini bisa dilakukan dinas terkait, tanpa membentuk PD.
Pendirian PD juga belum mempunyai referensi yang kuat, sebab belum ada perusahaan daerah yang bisa diambil sebagai panutan keberhasilan. PDAM Tirtalihou sendiri sejak berpuluh tahun menjadi beban Pemkab (rakyat). Keterlibatan USU Medan dalam menentukan kebijakan ekonomi Pemkab Simalungun juga kurang pas, karena USU pun belum mempunyai pengalaman menjalankan perusahaan, sebab yang dikelola lembaga ini hanya penelitian ilmiah dan teori. Nasehat yang lebih baik adalah dari lembaga manajemen yang sudah terbukti memberikan konsep penataan perusahaan swasta yang memberikan profit pengembangan yang berkesinambungan.
“Karena PD Agromadear sudah disahkan dan dilantik direksinya, maka yang bisa kita harapkan evaluasi kinerja perusahaan ini. Kalau dalam tempo 1-2 tahun tidak menghasilkan apa-apa untuk kepentingan rakyat, maka harus cepat-cepat dibubarkan agar tidak menjadi beban anggaran di masa depan. Sebab yang dipakai mereka sebagai modal adalah uang rakyat, lho,” kata Sarmedi Purba. (S3/l)

Tuesday, October 30, 2007

Metro Siantar: Ketua DPRD Oke Pemekaran

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Eksekutif – DPRD Duduk Bersama dengan Panitia Pemekaran Simalungun
Berita Utama Add comments
Simalungun (SIB) 31 Oktober 2007
Bupati Simalungun Drs HT Zulkarnain Damanik MM menawarkan Rp 5 miliar menuntaskan pemekaran Kabupaten Simalungun menjadi 2 kabupaten yakni Kabupaten Simalungun (induk) dan Kabupaten Simalungun Hataran (pemekaran) sekaligus bersedia memberikan subsidi selama 5 tahun.
Hal itu disampaikan pada pertemuan antara eksekutif, legislatif, tokoh masyarakat dan panitia pemekaran Simalungun di ruang Harungguan kantor bupati, Selasa (30/10). “Pemekaran Simalungun bukan untuk kepentingan bupati maupun kepentingan DPRD tetapi demi kepentingan masyarakat,” katanya.
Mengingat tujuan pemekaran untuk mensejahterakan masyarakat, ia menyampaikan kesediaan menandatangani pernyataan memberikan subsidi kepada daerah pemekaran selama 5 tahun. Dan, untuk menuntaskan terwujudnya pemekaran ia menyebutkan pernah menawarkan dana Rp 5 miliar tetapi tawaran itu tidak mendapat respons dari berbagai komponen masyarakat untuk menyelesaikan persoalan dan mempertanggungjawabkan keuangan.
Dalam APBD Simalungun tahun berjalan, katanya telah dialokasikan anggaran Rp 700 juta tetapi yang terpakai hanya sekira Rp 300 juta, sisanya dikembalikan ke kas daerah. Minimnya pengeluaran anggaran itu dengan alasan pertimbangan atas azas manfaat dan pertanggungjawaban keuangan.
Ia mengakui, rencana pemekaran Kabupaten Simalungun merupakan aspirasi dan perjuangan membutuhkan dana, tenaga dan pemikiran. Secara pribadi dikatakan tetap mendukung rencana pemekaran dan bersedia mengusulkan anggaran ditampung di dalam APBD Simalungun untuk percepatan pemekaran Kabupaten Simalungun.
Namun, sebagai penyelenggara pemerintahan, katanya, hanya menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat sedangkan panitia pemekaran hendaknya berada pada posisi terdepan memperjuangkan aspirasi tersebut hingga dibahas DPR – RI. Sedangkan upaya melalui Departemen Dalam Negeri dikatakan terhambat dengan adanya revisi PP Nomor 129 Tahun 2000.
Sebagai bentuk persetujuan, ia mengatakan telah menyampaikan rekomendasi kepada Gubsu serta bersedia melengkapi beberapa kekurangan persyaratan seperti peta, potensi daerah Kabupaten Induk dan Pemekaran kepada Gubsu.
Menanggapi adanya anggapan Bupati dan Ketua DPRD Simalungun sebagai penghambat atau tidak setuju atas rencana pemekaran, Zulkarnain Damanik menyatakan tudingan itu tidak mengandung kebenaran. “ Saya sendiri pernah memberikan bantuan Rp 10 juta mendukung kelancaran aktivitas panitia memperjuangkan pemekaran,” katanya.
Kepada seluruh komponen masyarakat diimbau agar senantiasa menghindari peristiwa berdarah dalam memperjuangkan pemisahan daerah menjadi dua kabupaten.
Selanjutnya, Ketua DPRD Simalungun H Syahmidun Saragih SSos memaparkan berbagai upaya yang sudah dilaksanakan dewan baik fraksi maupun komisi DPRD Simalungun menindaklanjuti aspirasi masyarakat menginginkan pemekaran.
Dikatakannya, satu bulan lalu Komisi I DPRD Simalungun menemui Depdagri dan DPD/ DPR - RI guna meminta petunjuk langkah – langkah apa yang harus ditempuh menggolkan perjuangan pemekaran Kabupaten Simalungun.
Pertemuan dengan anggota DPD asal Sumut masing–masing Lundu Panjaitan dan Parlindungan Purba mengarahkan panitia agar melengkapi beberapa persyaratan yang dibutuhkan seperti peta daerah, dukungan dari DPRD, Bupati, DPRDSU dan Gubsu. Sedangkan keputusan DPRD Simalungun tentang revisi batas daerah pemekaran dengan kabupaten induk dikatakan segera akan dilaksanakan.
Sementara, Ketua Presedium Persiapan Pemekaran Kabupaten Simalungun Leo Jamaria bersama Ketua H Maknur Sinaga dan anggota dr Sarmedi Purba memaparkan awal munculnya aspirasi pemekaran Simalungun sejak tahun 1960–an. Pada kesempatan tersebut, Leo Jamaria menyebutkan panitia tetap komit dan bersedia menyediakan biaya perjuangan pemekaran. Ia menyampaikan salut atas pernyataan Bupati Simalungun Drs HT Zulkarnain Damanik dan Ketua DPRD Simalungun H Syahmidun Saragih.
Pada pertemuan itu turut hadir Asisten I Drs Oberlin Hutagaol, Drs Marim Purba, Sulaeman Sinaga, anggota Komisi I DPRD Simalungun di antaranya St Nason Damanik, Dr Tumpak P Manik, Tapa Siboro, Rajisten Sitorus dan H Iskandar Sinaga. (S4/d)
http://hariansib.com/2007/10/31/eksekutif-%e2%80%93-dprd-duduk-bersama-dengan-panitia-pemekaran-simalungun/

Wednesday, October 17, 2007

Dr Sarmedi Purba : Pembentukan PD Agromadear Pemkab Simalungun Penghamburan Uang Rakyat

Posted By Redaksi On 17 Oktober, 2007 @ 8:30 am In Marsipature Hutanabe | No Comments
Simalungun (SIB)
Pembentukan Perusahaan Daerah (PD) Agromadear oleh Pemkab Simalungun dinilai oleh tokoh masyarakat Simalungun Dr Sarmedi Purba merupakan penghambur hamburan uang rakyat, bahkan akan menjadi sumber korupsi di kalangan direksi dan oknum tertentu nantinya. Apa urgensinya dan kemampuan PD itu nantinya mengatur harga produksi pertanian di Simalungun. Kini kan sudah pasar global, katanya kepada SIB, Kamis (11/10) sore.

Seperti disebutkan Bupati Drs H Zulkarnain Damanik MM, PD Agromadear akan mengurusi pemasaran produk-produk pertanian dari Simalungun hingga ke ekspor-impor. Pembentukan perusahaan daerah yang baru ini, Bupati mengajukan anggaran Rp 4,9 miliar, namun DPRD Simalungun hanya menyetujui Rp 815 juta pada pos kebijkan pembiayaan pada P APBD 2007 dan Rp 65,885 juta untuk penyertaan modal pada Bank Sumut.

Pada pembahasan KUA dan PPAS sebelum ke pembahasan P APBD 2007, anggaran pembentukan PD Agromadear ini menjadi salah satu pembahasan yang sangat “alot” di kalangan panitia DPRD dan tim anggaran dari eksekutif, sebab pihak eksekutif dinilai kurang mampu menjelaskan visi dan misi serta prospek masa depan PD Agromadear ini. Seusai sidang, DPRD menyepakati KUA dan PPAS itu, atas pertanyaan SIB, Bupati Drs Zulkarnain Damanik menyatakan tidak kecewa atas anggaran yang hanya Rp 815 juta itu dan kepada jajaran direksi PD Agromadear pun diberi waktu hingga Mei 2008 untuk membuktikan kemampuan dan manfaat PD itu, jika tidak bermanfaat, tentu akan dievaluasi.

Tokoh masyarakat Dr Sarmedi Purba yang juga pendiri LSM bina Insani dan dewan pakar Partai Demokrat Simalungun menyebutkan, sebagian besar BUMN di tanah air dan BUMN seperti PDAM Tirtalihou menjadi masalah. Pemerintah saat ini mengambil jalan keluar menjadikan swastanisasi, namun aneh, justru Pemkab Simalungun membuat PD yang baru yang tidak jelas gunanya.

Disebutkan, PDAM Tirtalihou yang sekarang, jelas sumber airnya merupakan “anugerah dari Tuhan” dari berbagai mata air, pelanggannya jelas ada, tapi ternyata perusahaan itu tidak bisa memberikan kontribusi pendapatan untuk Pemkab bahkan menjadi beban anggaran Pemkab Simalungun serta pelayanannya yang sangat buruk. Maka dikhawatirkan, PD Agromadear akan sama nasibnya seperti PDAM Tirtalihou atau mungkin akan lebih parah, kata Sarmedi Purba melalui ponselnya yang saat ini sedang berada di Kamboja.

Kalau benar Bupati Drs H Zulkarnain Damanik mau mensejahterakan rakyat di Simalungun, salah satu cara yang paling masuk akal saat ini fasilitasi pembentukan panitia pemekaran Kabupaten Simalungun sehingga rakyat lebih dekat dengan pusat kekuasaan dan pasar yang bisa terjangkau. Bagaimana seorang Bupati di Siantar bisa melihat rakyatnya di Negeri Dolok, Perdagangan dan di beberapa Nagori (desa) yang jauh bertebar di 31 kecamatan. Kabupaten Simalungun sangat layak dimekarkan hingga 3 kabupaten, katanya. (S3/i)
________________________________________
Article printed from : http://hariansib.com
URL to article: http://hariansib.com/2007/10/17/dr-sarmedi-purba-pembentukan-pd-agromadear-pemkab-simalungun-penghamburan-uang-rakyat/

Monday, October 15, 2007

SALAM DARI SIEM REAP

Dear GUESTS,

Salam dari Siem Reap, Kamboja, dari candi Angkor Wat, peninggalan Hindu abad ke 11. Nampaknya Borobudur kita jauh lebih terawat dari candi orang Kmer ini, walaupun mereka klaim punya candi terbesar di dunia.

Siem Reap kota miskin 4 tahun yang lalu sekarang menggeliat jadi kota turis yang dikunjungi ribuan wisatawan dunia, punya hotel bintang 4 dan 5 yang semuanya baru. Dan mereka masih dalam pembangunan di seluruh pelosok kota. Cuma jalannya masih kopak kapik. Maklum pemerintah selalu terlambat selangkah dari swasta.

Melihat kota ini kita iri, kapan Parapat dan Samosir bisa dimasuki turis mancanegara dengan airport sendiri.

At least kami senang di sini. Tari-tariannya sama dengan tari Bali tau mungkin lebih mirip tari Jawa karena lebih lambat dari Bali, tapi gerakan tangannya persis seperti tari Simalungun. Ada juga mereka tunjukkan tari “manduda” alias tari tumbuk padi.

Salam untuk semua, besok kami lihat cucu di Koh Samui.


Sarmedi & Gertrud

10 Oktober 2007
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, September 28, 2007

EMPAT TAHUN HUTAN DOA DI PARTAYUBAN

Hutan doa di Partayuban Desa Sondiraya, yang mulai ditanam pada J100 , Jubileum 100 Tahun Injil di Simalungun, tidak terasa sudah 4 tahun umurnya. Hari ini foto-foto hutan meranti, ingul dan mayang tersebut diambil dan ditayangkan di sini. Pada bulan Agusuts 2003 sebanyak 2000 pohon ditanam. Pernah juga terbakar pada tahun 2004, ditanam lagi oleh lawei saya Pak Jaludin Sinaga dari Bahapal Raya.

Bulan Pebruari 2007 ada lagi tambahan lahan baru ex tanah Sariaman Purba yang berbatasan dengan hutan lama. Di sini ditanam lagi 2500 pohon yang kebanyakan ingul (lihat 2 foto terakhir). Pohon matoa yang tumbuh lebat di tanah Papua kebanyakan tidak tumbuh di atas lahan yang tingginya 1000m di atas permukaan laut ini.

Belakangan ini ada 500 pohon mahoni ditanam untuk mengganti tanaman yang mati. Mudah-mudahan bisa tumbuh di Sondiraya karena menurut informasi pohon mahoni bisa tumbuh sampai ketinggian 800m saja.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sunday, September 16, 2007

Sekali lagi tentang PEMEKARAN SIMALUNGUN

Rakyat Simalungun Dirugikan Tanpa Pemekaran
Oleh Sarmedi Purba
Thesis:
1. Rakyat Simalungun akan dirugikan kalau pemekaran Kabupaten Simalungun tidak jadi direalisasikan.
2. Melestarikan budaya Simalungun harus ditempuh dengan membuat rakyat Simalungun sejahtera.
3. Pemekaran daerah adalah salah satu jawaban atas sentralisme pemerintahan yang selama ini menghambat pembangunan.
4. Langkah praktis pemekaran Kabupaten Simalungun adalah bergegas membentuk PANITIA PERSIAPAN PEMBENTUKAN KABUPATEN SIMALUNGUN HATARAN.

• Rakyat Simalungun akan dirugikan kalau pemekaran Kabupaten Simalungun tidak jadi terlaksana. Mengapa?

1. Dana pembangunan lebih sedikit dibanding dengan daerah lain; contoh: APBD 4 kabupaten ex Tapanuli Utara (Taput) sekarang membengkak fantastis dari Rp 600 M (sebelum pemekaran) menjadi Rp1,2T (sesudah pemekaran menjadi 4 kabupaten) sedang Kabupaten Simalungun hanya Rp700M (APBD 2007). Artinya lebih banyak uang yg dikelola ex Taput dari Kabupaten Simalungun, lebih cepat pembangunan di sana dan lebih banyak pengangguran diserap sebagai PNS dan karyawan swasta dengan pembentukan daerah otonomi baru. Lihat saja Pangururan di Kabupaten Samosir, jalan desanya sudah aspal beton, RSU (Rumah Sakit Umum) di Pangururan menjadi RSUD Kabupaten menerima bantuan pusat dan APBD Provinsi dan Kabupaten. Hal itu tidak terjadi di Perdagangan, Pematang Raya dan Saribudolok yang sampai sekarang tetap jadi ibukota kecamatan. Padahal Saribudolok sampai 5 tahun lalu lebih hebat dari Pangururan.
2. Jalan antar kecamatan di Kabupaten Simalungun akan lebih cepat dibangun. Sejak 62 thn merdeka belum ada jalan antar kecamatan ke Kecamatan Raya Kahean (Sindarraya) dan Kecamatan Silou Kahean (Nagoridolog). Kalau bupati kabupaten dengan ibukota Sondiraya mengurusi hanya 16 kecamatan (lebih baik lagi kalau hanya 8 kecamatan) dari yang sekarang 32 kecamatan, pembangunan akan terfokus pada jalan yg kita harapkan dapat membuka daerah baru sehingga penduduknya mempunyai akses yang lebih baik pada pasar yang terbuka.
3. Proses demokratisasi lebih cepat terjadi yaitu yang mencakup kedekatan rakyat pada bupatinya, sehingga aspirasi mereka dapat tersalur dengan baik. Sulit dibayangkan kedekatan rakyat di Saranpadang dan dan Nagoridolog dengan bupati Simalungun di Pematangsiantar. Kemudian kontrol masyarakat terhadap kinerja eksekutif dan legislatif, termasuk dinas-dinas, lebih mungkin karena jumlah yg diurus lebih sedikit.

• Melestarikan budaya Simalungun harus ditempuh dengan membuat rakyat Simalungun sejahtera. Mengapa? Orang miskin sulit mengembangkan budayanya. Kadang orang miskin tidak mampu memenuhi syarat adat perkawinan karena ketiadaan dana. Dulu budaya dilestarikan raja-raja Simalungun karena hanya mereka yg mampu memperagakannya, membelinya, membiayainya. Karena itu kalau kebanyakan rakyat Simalungun, khususnya etnik Simalungun tetap miskin, bagaimana dia melestarikan budayanya. Ingat, raja-raja Simalungun tidak ada lagi. Karena itu percepatan pembangunan sangat penting. Salah satu cara mempercepat pembangunan adalah pembentukan daerah otonomi baru yg diamanatkan oleh undang-undang otonomi daerah. Budaya dan etnik Simalungun tidak dirugikan dengan pembentukan daerah otonomi baru. Malah diberikan peluang yg lebih luas untuk meng-exercise budaya itu dengan biaya yang lebih besar seperti yg kita lihat pada kabupaten lain yang sudah dimekarkan. Di manapun budaya Simalungun harus dilestarian oleh pendukungnya atau pemakainya (mereka adalah users dan costumers budaya Simalungun), di semua kabupaten yg mempunyai penduduk etnik Simalungun, seperti di Kabupaten Sedang Bedagei, Kota Tebing Tinggi, Kab Batubara, Kab Karo, dan malah di Jakarta dan Amsterdam, Frankfurt dan New York. Intinya, apakah kita tega membiarkan etnik Simalungun miskin karena takut mereka terpecah dalam kabupaten yang berbeda?

• Pemekaran daerah adalah salah satu jawaban atas sentralisme pemerintahan yang selama ini mengambat pembangunan. Setelah Orde Baru tumbang dibawah kepemimpinan Soeharto, baru kita sadar bahwa kita selama 30 thun mempunyai konsep yang salah. Salah satu kesalahan (selain korupsi yg tetap marak) adalah pengurusan pembangunan yang dipusatkan di Jakarta. Konsep pembangunan modern di negara berkembang dan negara industri maju (contoh Filipina, Thailand, Jerman) adalah pembentukan daerah otonomi yang memberikan hak mengatur dirinya sendiri karena merekalah yg lebih tahu apa yg mereka butuhkan untuk daerahnya. Pengaturan yg selama ini dilakukan oleh Jakata misalnya, memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya salah urus. Jadi kalo rakyat Simalungun tidak mau mengurus dirinya sendiri maka hak-hak mereka akan terabaikan dan pembangunan didaerahnya tetap lamban seperti sekarang ini. Ingat bahwa daerah yang terbelakang yang lebih membutuhkan pembentukan daerah otonomi baru.

• Langkah praktis untuk pemekaran Kabupaten Simalungun sekarang adalah membentuk Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Simalungun Hataran. Panitia ini diharapkan didukung oleh bupati Simalungun, DPRD Kabupaten Simalungun, partai politik, tokoh masyarakat di Kabupaten Simalungun, khususnya tokoh masyarakat di 14 (?) kecamatan di daerah yang direncanakan menjadi Kabupaten Simalungun Hataran. Panitia melengkapi persyaratan sesuai aturan perundang-undangan dan mengajukannya ke DPR untuk dapat diundangkan sebagai usulan hak inisiatif DPR (jadi tidak usah melalui jalur eksekutif di daerah dan pusat, walaupun mereka tetap diberikan informasi agar mendapat dukungan via lobby - cara ini dibenarkan oleh UU). Dari presedens pembentukan daerah kabupaten baru semisal Tobasa, Samosir, Humbahas, Batubara dan lain-lain, yang potensinya setara atau malah lebih kecil dari Kabupaten Simalungun sekarang, tidak ada alasan dari siapapun untuk menolak pemekaran Kabupaten Simalungun. Lain hal kalau kita sendiri tidak mau karena kepentingan sesaat dan bersifat pribadi.-

Pematangsiantar 16 September 2007

Monday, September 03, 2007

Grand Opening Humanity-Station in Siantar Sukses

Pada hari Senin 3 September 2007 Drs H. Kasim Siyo, Ketua Pengurus Daerah Palang Merah Indonesia (PD PMI) meresmikan Radio PMI yang berubah nama menjadi Humanity Station in Siantar pada Frekuensi FM 105,40 MHz. Bertempat di di depan Sekretariat PMI Cabang Kota Pematangsiantar/Kabupaten Simalungun di Jalan Sutomo 256 grand opening ditandai dengan pelepasan balon Humanity Station in Siantar, disaksikan oleh Bupati Kabupaten Simalungun dan Walikota Pematangsiantar, masing-masing diwakitli oleh Oberlin Hutagaol dan Johannes Tarigan. Hadir pada kesempatan itu perwakilan dari Japanese Red Cross Society, Miss Tamaki Hatano yang didampingi oleh penggantinya yang baru Miss Maki Igarashi dan Mr Yutaka Oiwa, Japanese Red Cross Jakarta, yang menyumbangkan dana untuk pembangunan stasiun radio PMI yang baru itu.

Juga hadir perwakitlan Deutsches Rotes Kreuz (Palang Merah Jerman), Herr Patrick Bolte, yang menyumbangkan biaya pembangunan Gedung PMI baru di Pematangsiantar.

Pada kata sambutannya Dr Sarmedi Purba, Ketua PMI Cabang Siantar memberitahukan bahwa Humanity Station ini adalah radio kepalangmerahan yang pertama di Indonesia. Sejak tahun 1998 PMI di daerah ini telah berupaya membangun stasiun radio, tapi gagal karena peralatan yang kurang memadai. Baru sejak dua tahun ini direncanakan pembangunan stasiun radio FM dengan bantuan PMI Jepang, yang dikhususkan untuk menyebarkan informasi mengenai HIV AIDS untuk masyarakat, yang kegiatannya berpusat pada pencegahan, perawatan dan advokasi orang dengan HIV AIDS (ODHA). Sarmedi mengingatkan bahwa alat komunikasi elektronik ini harus dipergunakan dengan efisien, jangan underutilised, sehingga message tentang kegiatan kepalangmerahan dapat disampaikan secara intensif dan benar kepada masyarakat.

Apalagi dalam waktu dekat akan bertambah lagi kegiatan PMI Siantar Simalungun dengan aktivitas pengadaan ambulans 24 jam dan pengoperasian gedung baru PMI di Jalan Sutomo, yang didanai oleh Palang Merah Jerman.

Semoga Siaran Radio Humanity Station in Siantar FM 105,40 tetap jaya dan “sekali mengudara tetap diudara.”
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Balon Grand Opening Humanity Station in Siantar FM 105,40 MHz
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dari Kiri: Dr Sarmedi Purba,Ketua PMI Siantar/Simalungun, Drs H. Kasim Siyo,Ketua Pengurus Daerah PMI Sumut, dr Waldy Saragih, Kadis Kesehatan Kab Simalungun, Interpreter dan Miss Tamaki Hatano, Palang Merah Jepang di Medan

Sunday, September 02, 2007

WENDY & DAVID’S WEDDING

WENDY & DAVID’S WEDDING
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Akhirnya Wendy dan David mengakhiri masa lajang mereka dan bersatu membentuk keluarga yang yang puncak acaranya dilakukan dengan pemberkatan nikah di GKPS Satyanegara Pematangsiantar pada hari Sabtu 1 September 2007. Sesudah pemberkatan diberikan kesempatan untuk keluarga, handai tolan dan teman sejawat dari kedua keluarga untuk merayakannya di Balei Bolon GKPS Jalan Pdt Wismar Saragih Siantar.
Cukup ramai dan berkesan event yang berlangsung sepanjang hari itu. Pada kebaktian pemberkatan, Pdt Dr. Jaharianson Saragih mengingatkan akan pentingnya kebersamaan minat suami isteri, misalnya kalau sama-sama suka malling (shopping atau cuci mata di mall) itu lebih mudah menciptakan kerukunan dalam rumah tangga. Kalau salah satu pasangan dominan, sering keluarga mengalami ketegangan. Untunglah, kata Pendeta yang sekarang sedang bertugas sebagai Rektor Institut Teologia Abdi Sabda (ITAS) ini, bahwa Wendy dan David sama-sama suka ke mall dan keduanya mempunya beberapa minat yang sama dan keduanya tidak tipe yang ingin mendominasi. Paling sedikir itulah hasil “penelitian ilmiah” doktor teologia kita ini pada pembicaraan bimbingan pranikah yang dilakukan beberapa hari sebelumnay. Karena itu mereka diprediksikan menjadi pasangan yang serasi, walaupun baru beberapa bulan pacaran dan sudah lama saling kenal, kata pendeta itu dalam khotbahnya.
Pada acara resepsi yang juga diselenggarakan di halaman Balei Bolon GKPS itu, nampak hadir Ephorus GKPS Pdt Belman Purba Dasuha dan Sekjen GKPS Pdt Rumanja Purba MTh dan banyak rekan Pdt Berlian Saragih, bapak mempelai perempuan, yang sekarang bertugas sebagai pendeta resort GKPS Satyanegara Pematangsiantar. Nampak juga hadir Drs Kimmer Damanik dan ibu dan beberapa pejabat dan mantan pejabat di tingkat kota dan kabupaten Siantar/Simalungun, maupun tingkat provinsi. Ini kita maklumi karena banyak rekan Nyonya Nalim Purba boru Siahaan (ibu mempelai laki-laki) adalah para pejabat, karena almarhum suaminya adalah mantan pejabat di Pemerintah Kabupaten Simalungun.
Pada acara hiburan pada panggung resepsi, Prof Bungaran Saragih dengan spontan “manortor” dengan Marim Purba beserta keluarga Saragih Garingging dan Purba Dasuha, diiringi oleh penyanyi tenar Roslinda boru Sitanggang dengan lagu Deideng, Bintang Narondang Ou. Rupanya kedua mantan pejabat ini sangat menguasai dan menjiwai seni tortor Simalungun.
Acara adat berjalan dengan antrian panjang yang berlangsung sampai jam 6 sore. Tondong Sigumonrong 19 menyampaikan seperangkat pakaian adat dan perhiasan kepada kedua mempelai, mereka di-“hiou”-i dan di-“borastengeri”-i. Keluaraga Sigumonrong 19 bukan hanya 19 bersaudara laki-laki, tapi juga anak-anaknya, “botou”nya, “panogolan”nya dan seluruh keturunannya. Jadi Keluarga David dan Wendy mulai hari pemberkatan perkawainan mereka adalah juga keluarga Sigumonrong 19. Buatlah setiap pemberian dari begitu banyak keluarga sebagai kumpulan banyak mosaik yang membentuk suatu bangunan rumah tangga yang baik, indah dan sempurna, disukai oleh kerabat dan keduarga, demikian “tonah” dari Tondong Sigumonrong 19 yang disampaikan oleh Sarmedi Purba.
Selamat mengharungi hidup baru, Wendy & David.

Wednesday, August 29, 2007

PERGELARAN SENI TUTUR SUMATERA UTARA

Barita-Simalungun@yahoogroups.com
Von: "Masrul Purba" Ins Adressbuch
Yahoo! DomainKeys hat bestÃĪtigt, dass diese Nachricht gesendet wurde von: yahoogroups.com. Weitere Info

Datum: Wed, 29 Aug 2007 09:32:18 -0700 (PDT)
Betreff: [Barita-Simalungun] SENI TUTUR SUMUT

PERGELARAN SENI TUTUR SUMATERA UTARA
Tradisi lisan dalam format konvensional barangkali memang telah sulit ditemukan dalam kehidupan sastra kita. Seni tutur ini yang sudah berakar dari nilai-nilai pekerti bangsa, mulai terasa tercabut dan mulai tergantikan oleh tradisi luar, akibat kepedulian yang teramat minus dari kita generasi di era kini.

Kepedulian terhadap pelestarian tradisi yang dilakukan Dra. Sri Hartini, M Si, Kepala Museum Negeri Sumatera Utara, perlu diacungkan jempol. Bertempat di Aula Museum Negeri Sumatera Utara pada tgl 28 – 29 Agustus 2007, Sri Hartini menggagas dan merealisasikan Pertunjukan Seni Tutur Sumatera Utara.

Mungkin saja kita bertanya, kenapa tidak Taman Budaya Sumatera Utara sebagai unit pelaksana tugas Dinas Kebudayaan & Pariwisata Sumut yang melaksanakan. Namun sudahlah, seniman dan pengembang tradisi di Sumut sudah sama tahu bagaimana kinerga Dra Cut Umi sebagai Kepala UPT Taman Budaya Sumatera Utara, mungkin warisan era mantan Kadis Budpar Sumut Alm Drs H Ridwan Batubara MM (coba anda lihat website disbudpar Sumut, main menu nyaris keseluruhan menyajikan tulisan: This Category is currently empty).

Kembali ke Pertunjukan Seni tutur Sumatera Utara yang digagas Dra. Sri Hartini, Msi. Pertunjukan yang dihadiri Dr Muklis Paeni-Dirjen Seni budaya & film, Drs. A. Budi Priadi. M.Ap-Direktur Pembangunan Karakter & Pekerti Bangsa, Kepala Balai Pelestarian Nilai Sejarah & Budaya Aceh, Drs Iman Pandia-Pelaksana Kepala Dinas Buppar Sumut, Para Guru dan siswa-siswi serta peminat Seni Tutur.
Dalam Pertunjukan ini, enam Budayawan dan Seniman Tradisi mempertunjukkan Seni Tradisi dari berbagai etnis di Sumut.

St Harris Purba, seorang Seniman Tradisi Simalungun, menampilkan Dongeng Simalungun dengan selipan Deideng yaitu Seni Tutur berbentuk lagu rakyat. Drs. Yusrianto lain lagi, beliau berlakon monolog bak seorang penyiar radio dengan perpantun, Rajoki Nainggolan MA, Ketua umum Majelis Budaya Pesisir & Pariwisata Sibolga Tapanuli Tengah, sepertinya tidak menguasai bahan, ia memutar tape recorder untuk memperdengarkan alunan seni tutur Sikambang.

Dari seluruh pertunjukkan, penampilan Seorang Seniman Tradisi Melayu, Muhar Omtatok dkk, sangat memukau penonton. Muhar Omtatok dkk menampilkan Seni Tutur Masyarakat Melayu Pesisir Timur berupa Seni Dodoi Timang yang sudah nyaris punah. Tanpa merubah nilai keaslian seni tradisi, seniman ini mengembalikan nostalgia kala ibu kita menimang sambil berdendang. Mata penonton & kamera berpadu tidak ingin meninggalkan satu detikpun penampilan Muhar Omtatok berdodoi dengan kocak dan diiringi gendang, biola dan alat musik gambus.

Pertunjukan Seni Tutur ini dirangkai dengan Dialog Interpretasi Budaya Disiplin Dalam Seni Tutur dan Keterkaitannya dengan Menumbuhkan Karakter & Pekerti. Dra Sri Hartini, Msi menjelaskan; Museum Negeri Sumut akan memfasilitasi pengembangan seni tutur kedepan dengan sebagai warisan tradisi yang nyaris punah. “Saya Telah melaporkan & meminta kepada Bpk. Dirjen Seni budaya & film, untuk mewadahkan Budayawan & Seniman Tutur dalam sebuah Asosiasi Seniman Tutur agar seni tutur bias tetap lestari dan senimannya bisa eksis” demikian penjelasan wanita arkiolog yang energik ini.

Tuesday, August 21, 2007

Bah Pasussang

Hari Senin, 20 Agustus 2007 saya membacara koran Sinar Indonesia Baru bahwa di Bah Pasussang, Desa Siporkas, Kecamatan Raya terjadi musibah kebakaran di mana 3 rumah dilalap api dan 4 keluarga kehilangan harta benda. Saya mengirimkan sms kepada sekretaris PMI Cabang Siantar Simalungun apakah kepada desa itu bisa diantar bantuan PMI. Jawabnya postif dan kami pada sore harinya menyerahkan bantuan 4 karung beras masing-masing 30 kg untuk 4 keluarga korban kebakaran.
Dalam perjalanan dari Sondiraya melalui Bah Biruh, Buluraya Pasar dan Siporkas saya menelusuri hutan belantara yang masih perawan menuju Bah Pasussang. Melalui Lembah Panguapan dan jembatan Bah Siduaruang kami menaiki bukit dan melihat Dolog Simarsopah dengan tebing batu putih yang memantulkan cahaya matahari sore di kejauhan.
Limapuluh tahun silam saya jalan kaki menjelajahi hutan ini. Waktu itu ada seorang anak gadis dari Desa Sinundol tinggal di rumah kami –belajar menjahit pada ibu saya- dan dialah yang membawa kami ke desanya Sinundol, melewati Bah Pasussang. Kami bermalam dan keesokan harinya setelah matahari melalui puncak ketinggiannya, kami masing-masing membawa satu bakul kemiri di atas kepala. Jalannya berbatu-batu, kadang miring ke sebelah kanan atau kiri. Dan kami berhenti kelelahan di Lombang Panguapan ini.
Waktu itu di lereng Dolog Simarsopah, di dea Sinundol, biji kemiri dapat diambil sesuka hati dan sebanyak yang kita ingini. Mereka bilang “songon ayoban namapitung”, orang buta pun dapat memanen tanpa kesulitan. Konon kabarnya, kemiri di Dolog Simarsopah terkenal bagus dan lezat rasanya. Dengan usia 13 tahun saya ikut menempuh jarak 15 km melalui jalan hutan yang bekelok-kelok menembus hutan belantara dengan membawa 1 bakul (haduduk) biji kemiri menuju Desa Sondiraya.
Ingatan itulah mengetuk hati saya untuk melihat Desa Bah Pasussang kembali sesudah sekian lama. Seingat saya waktu masa kanak-kanak- pernah saya ikut kebaktian di sekolah di Bah Pasussang, di mana Pdt Wismar Saragih berkhotbah dan mengadakan rapat dengan pengurus gereja di Bah Pasussang ini. Pada satu lahan datar saya masih ingat sekolahan itu. Ada 3 ruangan kelas belajar. Sekarang saya tidak mengenal desa yang saya lihat itu lagi. Sekolah mereka jauh di bawah lembah di bawah jurang dan gereja di atas bukit di pinggir jalan raya Sondiraya menuju Sindarraya. Desa Bah Pasussang sendiri terletak 50 meter dari gereja yang bertuliskan GKPS Bah Pasunsang yang megah itu.
Waktu saya tanya di mana sekolah lama itu, mereka bilang itu sudah di luar desa sekarang, dekat jurang yang terancam longsor. Karena itulah sekolah di bangun di lembah sana dan desa baru dibangun di tempat sekarang. Mereka ada 80 keluarga dengan mata pencaraharian utama berkebun karet yang hasilnya dijual di Sindarraya, 15 km dari Bah Pasussang. Mereka juga menanam padi di lereng gunung yang terjal dengan kemiringan 60 derajat.
Jalan beraspal beton yang sebagian sudah rusak dan semaknya kanan kiri jalan sudah hampir haltup (bertemu di tengah jalan) tidak banyak mengubah nasib desa ini. Bedanya, mereka sudah bisa naik mobil, bus (1 x sehari) dan sepeda motor, untuk keluar dari desanya ke Sondiraya dan Pematangsiantar, yang jaraknya 15 dan 45 km.
Ketika saya tanya bagaimana jalan ke ibukota kecamatan Rayakahean di Sindarraya, mereka bilang masih dalam keadaan rusak dan sulit dilalui. Pertama sempit dan pada beberapa tempat hanya dapat dilalui minibus, tidak dengan sedan. Padahal jalan ini satu-satunya jalan antar kecamatan Raya dan Rayakahean atau jalan kabupaten antar kecamatan. Sampai sekarang mereka dari Kecamatan Rayakahean menempuh jarak yang lebih jauh melalui Kabupaten Serdang Bedagei dan Tebing Tinggi atau Bajalinggei untuk mencapai ibukota kabupaten Simalungun di Pematang Simalungun, KM 3 Jalan Asahan Pematangsiantar. Kalau ibukata Siamlungun pindah ke Sondiraya bagaimana ya? Sungguh ironis pada masa 62 tahun Indonesia Merdeka.
Saya menyerahkan 4 karung beras kepada korban bemimik putus asa itu. Salah seorang lelaki muda dengan muka kaku dan mata berkaca-kaca, menerima bantuan simbolik itu, boras tenger, penumbuh semangat berjuang terus mengarungi hidup yang cukup pahit ini. Sebagai Ketua PMI saya katakan bahwa hidup jalan terus, the life must go on, dan untuk itulah PMI membuat program bantuan korban bencana alam, salah atu dari kegiatannya untuk kemanusiaan. Dalam perjalanan pulang saya berpikir, masih banyak Bah Pasussang lain di Indonesia.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Gunung/Dolog Simarsopah
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Hutan Belantara
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Menyerahkan Bantuan "Boras Tenger"
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saturday, August 18, 2007

Pidato Direktur PT VITA INSANI INSANI SENTRA MEDIKA

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPidato Direktur PT VITA INSANI INSANI SENTRA MEDIKA
Pada Upacara Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan R.I. ke 62 17-8-2007
Di RS Vita Insani Insani

Yang saya hormati,
Komut PT VISM, Para Komisaris, Direktur RSVI, Sejawaat dokter-dokter, seluruh karyawan RSVI yang saya cintai.

Marilah kita mengucapkan syukur kepada Tuhan YME kita dapat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan R.I. ke 62 di lapangan parkir baru RSVI yang baru dibuka dan dimanfaatkan hari ini.

Merdeka 3 x

Dalam mengisi kemerdekaan yang diproklamirkan oleh bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan direbut dari pemerintahan kolonia Belanda dengan perang fisik dan diplomasi sampai akhir tahun 1949, ada 3 hal yang ingin sampaikan kepada kita semua:

Dengan dimulainya pelaksanan profesionalisme di rumah sakit di Indonesia, saya minta kepada seluruh jajaran petugas medis, paramedis, non medis di RSVI agar mengerjakan pekerjaan dengan kaidah-kaidah profesi masing-masing. UU Praktek Kedokteran akan disusul dengan UU Keperawatan, UU Perumahsakitan, dan seterusnya. Ini artinya bahwa semua pelaksanaan tindakan di RS harus dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku –tidak bisa lagi semau gue- pada semua bidang.

Sebagai contoh cara menyuntik, memandikan pasien dan tindakan keperawatan lainnya tidak boleh dilaksanakan di luar aturan yang berlaku di rumah sakit ini. Baby feeding (memberi makan bayi) ada prosedurnya, misalnya menetekkan bayi sedini mungkin, 1 jam sesudah lahir atau sesudah ibunya sadar pasca operasi. Juga harus diketahui dan dilaksanakan, kapan bayi ditunjukkan kepada ibunya dalam rangka sistim rooming in. Dengan demikian tidak perlu lagi si ibu menunggu sampai 2 hari baru bisa melihat bayi ang dilahirkannya.

Demikian juga pegawai administrasi, harus mengetahui dengan jelas apa tugas dan prosedur kerjanya dengan rinci. Tindakan yang menyalahi aturan akan mendapat ganjaran yang diatur oleh peraturan perundang-undangan. Tindakan dokter, penulisan rekam medik ada aturannya.

Bagian teknik tidak boleh sesukanya membuat kebisingan di rumah sakit. Ada dokumen UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) yang diperjanjikan oleh rumah sakit dengan pemerintah, di mana kebisingan (termasuk kategori pencemaraan) dihindari dengan berbagai upaya yang disepakati. Peraturan yang disepakati ini, seperti juga prosedur tetapyang diputuskan oleh direktur rumah sakit, mengikat secara hukum untuk semua pihak yang bekerja di RSVI.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dalam rangka mengisi kemerdekaan yang sudah berusia 62 tahun itu, Presiden dalam pidato kenegaraan kemarin pagi mencanangkan, secara bertahap, menaikkan penghasilan PNS. Bagaimana dengan kenaikan penghasilan pegawai swasta seperti RSVI ini? Masalah yang dihadapi manajemen rumah sakit adalah mencari income yang cukup untuk menutupi kenaikan gaji karyawan. Ini biasanya hanya mungkin kalau tarif pelayanan dinaikkan. Namun kenaikan tarif yang tidak dibarengi dengan peningkatan pelayanan, akan menurunkan income rumah sakit sebagai akibat kurangnya jumlah pasien. Karena itulah perlunya ada komitmen pimpinan dan karyawan, dokter-dokter di RSVI untuk meningkatkan mutu pelayanan kita. RSVI akan menghitung unit cost setiap pelayanan dan berupaya memberikan imbalan jasa untuk setiap kegiatan profesi.

Perubahan-perubahan yang saya sebutkan tadi adalah hal yang lazim. Jangan takut kepada perubahan. Tidak ada yang tetap bisa dipertahankan di rumah sakit yang baik, kecuali perubahan itu sendiri. Masalah kesehatan pada umumnya berkisar pada perubahan perilaku. Karena itu buatlah perubahan dalam perilakumu, misalnya konsekuen cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan pada pasien dan bayinya. Setiap perawat harus mampu melaporkan kegiatannya melalui terminal computer yang disediakan di RS ini. Ini hanya beberapa contoh.

Kita akan terus menerus berubah sepanjang zaman. Kemerdekaan kita itu juga terus berubah dan penuh perubahan. Dari kemerdekaan bangsa menjadi kemerdekaan kelompok dan golongan, termasuk kemerdekaan golongan minoritas, dan kemerdekaan pribadi lepas pribadi merupakan puncak dari pengisian kemerdekaan yang diproklamirkan 62 tahun yang lalu itu.


Karena itu saya mengajak kita semua, perjuangkan profesionalisme. Perjuangkan kesejahteraan. Lakukan perubahan-perubahan pada diri kita masing-masing.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
MERDEKA 3 X
SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA.
Terima kasih


Dr. Sarmedi Purba, SpOG
Direktur PT Vita Insani Sentra Medika
Pematangsiantar


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Tuesday, July 10, 2007

Lions Club Gelnhausen Akan Mengirimkan Bantuan Lanjutan Untuk Anak Korban Tsunami Pulau Nias Di Siantar

Asrama Anak Cacat Mental di negara bagian Thueringen dan Lions Club Gelnhausen di negara bagian Hessen Republik Federasi Jerman bertekad untuk membantu anak Nias korban tsunami di Siantar sampai pendidikan setingkat SLTA selesai. Demikian disampaikan oleh Rudolf Kimpel, anggota Lions Club Gelnhasuen, kepada Dr.med. Sarmedi Purba pada pertemuan di Benshasuen pada 6 Juli 2007.

Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka memperkenalkan Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias di Jalan Danau Kerinci 5 Pematangsiantar keapda anak-anak penghuni Asrama Anak Cacad Desa Benshausen. ada 50 anak-anak tinggal pada asrama yang dibangun kembali sejak 17 tahun lalu oleh Lions Club Benshausen pasca penyatuan kembali Jerman pada 1989. Mereka adalah anak-anak yang diterlantarkan orang tuanya yang sebagian mengalami broken home, penyiksaan rumah tangga dan sebagian malah diperkosa oleh bapaknya sendiri. Trauma jiwa dan badan anak-anak ini diusahakan disembuhkan kembali di asrama yang mempunyai 38 orang karyawan dan karyawati asrama ini. Tiap 4-5 orang anak diasuh intensif oleh pendidik yang berpengalaman. Mereka harus teratur dalam pengobatan dokter, pergi ke sekolah, mengerjakan PR, latihan dan juga pada acara santai bersama teman-teman mereka.

Walaupun mereka telah mengalami hal-hal yang mengerikan dengan trauma yang di luar jangkauan akal sehat manusia, mereka dengan sopan dan bersahabat menunjukkan asrama dan kehidupan mereka kepada kedua tamu dari Indonesia, Sarmedi Purba dan Ibu Gertrud, yang memprakarsai Asrama Anak Korban Tsunami di Siantar bersama Rusdin Sumbayak, Ketua Masyarakat Indonesia Jerman Daerah Rhein Main di Eschborn. Malah mereka mampu menyisihkan uang saku mereka untuk anak korban tsunami di Pematangsiantar dan mengajak guru-guru, pendidik dan anak sekolah setempat untuk turut menyumbang. Mereka menyampaikan beberapa lagu dan khusus untuk anak Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias Pematangsiantar, mereka menyumbangkan sanjak yang mereka ciptakan sendiri, yang antara lain berbunyi Seorang anak yang terus-terusan dikritik akan belajar mengutuk/ anak yang dipukuli akan belajar sendiri memukul/ anak yang dimanjakan akan belajar jadi pemalu/anak yang didorong akan belajar percaya diri/anak yang mendapat tolerasnsi akan belajar sabar/anak yang dipuji akan menhargai penilaian/anak yang di perlakuan adil akan belajar keadilan/anak yang dicintai dan dipeluk akan belajar merasakan cinta…

Pada pertemuan tersebut Ibu Gertrud Purba,yang juga mengawasi pelaksanaan pelayanan untuk 24 anak-anak di Asrama Anak asuhan Yayasan Bina Insani itu, memaparkan kehidupan anak-anak Nias korban tsunami di Siantar, misalnya bagaimana bahasanya, apa kegiatan mereka mulai pagi sampai sore dan banyak pertanyaan yang mereka ajukan kepada ibu Gertrud.

Anak-anak asrama di Benshausen bersama pimpinannya sepakat dengan Dr Sarmedi untuk melakukan tukar menukar pengalaman melalui internet dengan bahasa Inggeris. Pengasuh ananak-anak cacat mental ini ingin agar mereka menyelesaikan tugas wajib mereka dalam pelajaran bahasa Inggeris dengan menulis surat ke Siantar. Jadi sekali mendayung terlampaui dua pulau.

Keesokan harinya diadakan lagi pertemuan dengan Lions Club Gelnhausen yang dipimpin oleh Presidennya dan dimoderatori oleh Prof. Dr. Wolfgang Koening, mantan Presiden LC Gelnhausen, yang sudah 2 kali mengunjungi Asrama Anak di Siantar. Hadir juga antara lain Herr Fritz Dehio, Pengawas Perbendaharaan LC Gelnhausen yang sudah mengenai manajemen Asrama Anak di Siantar itu melalui hubungan internet. Beberapa anggota pengurus Lions Club Gelnhausen meyakinkan Dr Purba bahwa mereka akan mencari bantuan dari masyarakat Jerman untuk anak Nias yang bersekolah di Pematangisantar. Pada club meeting tersebut Ibu Gertrud juga menceritakan perkembangan pada anak sekolah yang tinggal di asrama di Pematangsiantar itu.

Seperti diketahui pada pemberitaan pers dan website http://www.binainsani.org/ sejak bulan Mei 2005 25 anak Nias korban tsunami Desember 2004 dan gempa bumi Maret 2005 ditampung Yayasan Bina Insani yang dipimpin Agus Marpaung di kota itu. Satu orang tidak meneruskan sekolahnya di Siantar dan pulang ke tempat orang tuanya di Nias, Tiga orang telah selesai menamatkan pendidikan SMA di SMA Kampus Universitas HKBP Nommensen Siantar. Dari 21 anak yang masih tinggal di asrama yang sejak 7 Juni 2007 pindah dari Jalan Baja Membara 6 ke Jalan Danau Kerinci 5 di kota itu, 11 anak akan meneruskan pendidikan ke SLTA setelah menamatkan pelajaran di SMP Cinta Rakyat P. Siantar.

Saturday, May 19, 2007

Malam Renungan AIDS Nusantara 2007-Pidato Ketua Badan Pembina

Pidato Ketua Badan Pembina YPSM BINA INSANI
Dr Sarmedi Purba
Pada acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2007
Di Gedung Olah Raga Pematangsiantar 19 Mei 2007.

Salam sejahtera bagi kita seluruhnya.

Marilah mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita dapat menyelenggarakan acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2007 ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak, Ibu dan Saudara sekalian karena bersedia menyediakan waktu untuk acara yang maha penting ini di tengah-tengah kesibukan Bapak Ibu dan Saudara sekalian. Saya yakin, kita semua yang berkumpul di tempat ini bertekan akan menyampaikan pesan-pesan terkait dengan masalah HIV/AIDS. Saya sebagai Dewan Pembina dan Pendiri Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusiawi (YPSM) BINA INSANI merasa sangat terbantu. Saya sangat berterimakasih atas partisipasi tersebut.

Saya terkesan bahwa kegiatan Malam Renungan AIDS Nusantara ini telah diawali dengan pawai massal keliling kota Pematangsiantar. Tentunya, kegiatan itu juga menjadi sebuah bentuk media kampanye bagi warga kota Pematangsiantar.

Perlu saya jelaskan, sekitar perlunya acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2007.
Setiap Mei, minggu ke 3 di seluruh dunia, hingga tahun ini, masih setia mengadakan malam renungan AIDS. Yayasan BINA INSANI, sampai saat ini telah mencoba memberikan kontribusi dengan mengadakan acara Malam Renungan AIDS Nusantara. Dan Malam Renungan AIDS Nusantara 2007, merupakan kontribusi Bina Insani untuk yang ke-5 kalinya. Acara ini merupakan upaya pembangkitan kepedulian, empati, dan dukungan terkoordinasi terhadap Orang-orang Dengan HIV/AIDS di seluruh dunia, yang hingga saat ini terus bertambah. HIV/AIDS tampaknya telah menjadi fenomena global yang mengundang perhatian dunia. Betapa tidak, sejak pertama kali dikenal pada tahun 1981, AIDS telah membunuh lebih dari 39,5 juta orang dan mencapai rekor sebagai epidemic penyakit paling mematikan dalam sejarah dunia.
Dengan skala dan impact-nya yang luas, HIV/AIDS telah menjadi epidemi global yang menyerang setiap tingkat kehidupan masyarakat sekaligus salah satu ancaman paling serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini, karena tidak ada satu negara pun yang dapat mengklaim wilayahnya bebas dari HIV/AIDS. Perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia sendiri sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut catatan Departemen Kesehatan RI (Ditjen Pemberantasan Penyakit & Penyehatan Lingkungan), sampai dengan 31 Desember 2006 kasus HIV/AIDS secara kumulatif telah mencapai angka 13.424 kasus dengan rincian 8.194 penderita AIDS dan 5.230 pengidap HIV. Dari jumlah tersebut, ternyata kasus HIV/AIDS juga telah merambah di kawasan Siantar dan Simalungun

Tema Internasional AIDS Candlelight Memorial 2007 adalah “Membuka Jalan Menuju Dunia Tanpa AIDS” atau “Leading the Way to the World Without AIDS”

Berjuta-juta wajah di seluruh dunia, yang peduli, yang bersedih, yang marah, yang prihatin, yang menanggung nyeri, dan wajah-wajah lainnya, bersatu berbagi semangat dalam menghadapi AIDS, menghadang laju penyebaran HIV. Untuk satu malam saja, hendaklah kita melupakan perbedaan dan perselisihan di antara kita, serta mengingat bahwa masih ada masalah lain yang juga layak dipikirkan. Semoga, kebersamaan yang bisa dijalin dalam satu malam ini, bisa dipertahankan bagi hari dan malam selanjutnya. Dengan demikian, semoga kelak kita tidak perlu lagi mengadakan malam renungan AIDS.

Malam Renungan AIDS Nusantara ini bertujuan untuk menyatukan semua orang dalam memikirkan epidemi AIDS yang sudah banyak mengambil nyawa manusia di dunia. Kita diajak juga untuk memberi dukungan kepada Orang dengan HIV/AIDS (Odha) dan Orang yang hidup bersama dengan penderita HIV/AIDS (Ohidha). Melalui renungan AIDS kita diajak bukan saja untuk peduli terhadap masalah AIDS tetapi melalui renungan kita diajak untuk mengambil langkah-langkah penanggulangannya.

Sejak lama, berbagai solusi telah dikeluarkan untuk mengatasi gerak laju HIV/AIDS. Dan saat ini sejarah pengobatan HIV/AIDS telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dengan ditemukannya obat antiretroviral. Akan tetapi, selain terbilang mahal, obat ini hanya sebatas memperlambat pembelahan (reproduksi) virus dan mencegah atau mengurangi beberapa efek yang diakibatkannya. Ilmuwan di seluruh dunia sedang bekerja keras mencari vaksin pembentuk kekebalan tubuh terhadap HIV. Tetapi sampai sekarang sesungguhnya belum ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS.

Atas dasar hal ini, maka menerima apa adanya pengidap HIV/AIDS (ODHA), menjadi lebih penting ketimbang mempersoalkan dari mana ia mendapatkannya, dari siapa, kapan, mengapa ia bisa tertular, yang justru akan lebih membawa luka baru bagi para pengidap HIV/AIDS. Atas dasar kemanusiaanlah, maka dia harus mendapatkan hak-haknya sebagai manusia sebagaimana layaknya. Di sinilah fungsi pendamping, utamanya keluarga, dapat lebih berperan sehingga sisa-sisa hidupnya dapat lebih berguna terutama bagi dirinya dan juga masyarakat.

Setiap orang yang terinfeksi maupun yang terkena dampak dari HIV/AIDS membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Di pihak lain, upaya terpenting dalam memerangi AIDS sesungguhnya adalah pencegahan melalui pendidikan dan penerangan kepada masyarakat. Selain memberi bimbingan dari sisi moral dan akhlak, yaitu mendorong masyarakat untuk menjalani kehidupan yang sehat, penerangan mengenai apa sebenarnya penyakit AIDS juga harus disebarluaskan kepada masyarakat. Sebagian besar dari mereka terjangkit penyakit AIDS karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi.

Perlu saya tekankan bahwa penularan HIV AIDS umumnya melalui 3 cara:
1. hubungan sex (sex vaginal, oral atau anal) dengan orang yang terinfeksi HIV
2. Berbagi spuit dan jarum suntik dengan orang yang terinfeksi HIV
3. Tertular sebelum dan waktu lahir (janin dan anak) dan waktu menyusui dari ibu yang terinfeksi HIV.

Dan orang tidak tertular HIV dengan bersalaman, berpelukan atau serumah dengan pengidap HIV. Juga tidak tertular kalau makan dan minum bersama ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Juga kita tidak akan tertular HIV/AIDS dari duduk di WC, cuci tangan di kran umum, pegang gagang pintu, dari piring, gelas minum atau dari hewan peliharaan. Dan nyamuk tidak bisa menyebarkan HIV/AIDS.

Dalam kesempatan ini perlu saya sampaikan bahwa :
Atas kerjasama dengan Family Health Indonesia, Bina Insani dan Puskesmas Kerasaan akan menyediakan layanan tes Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS di Kabupaten Simalungun.
Untuk layanan konseling dan tes IMS, HIV/AIDS di klinik Puskesmas Kerasaan adalah pada hari Senin-Rabu pada jam 11.00 s/d jam 15.00 dan pada hari Jum’at, pada jam 09.00 s/d jam 12.00
Untuk layanan konseling dan tes IMS, HIV/AIDS dengan mobil klinik, di Bina Insani, Jln. Pantai Timur No. 91 Pematangsiantar adalah setiap hari Kamis, Minggu ke IV, pada jam 10.00 s/d jam 15.00

Akhirnya ijinkan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran para bapak/ibu dan saudara-saudara pada Acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2007.

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan YME, Acara ini dengan resmi saya buka.
Semoga kita semuanya mendapat berkat dan lindunganNya dan para bapak/ibu serta saudara dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik.

Terima Kasih. Horas.

Dr. Sarmedi Purba
Ketua Badan Pembina/Pendiri
Yayasan Bina Insani Pematangisantar

Friday, March 09, 2007

PEMEKARAN KABUPATEN SIMALUNGUN - OPINI

OPINI

Pemekaran Sebagai Upaya Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Kabupaten Simalungun
(Sarmedi Purba)

Pemekaran daerah atau pembentukan daerah otonomi baru adalah kesempatan yang terbuka dalam upaya mempercepat pembangunan daerah sesudah era reformasi, khususnya untuk daerah tertinggal di Indonesia. Kemacetan pembangunan antara lain disebabkan oleh macetnya organisasi pemerintahan, sistem demokrasi yang tidak berjalan seperti seharusnya, Salah satu penyebab kesulitan yang timbul adalah karena luasnya daerah yang harus diurus oleh satu pemerintahan daerah dan jumlah penduduk yang melebihi angka ideal untuk dapat berfungsinya kontrol sosial masyarakat.

Dengan perkataan lain, pemerintahan yang sentralistik yang berjalan selama orde baru terlalu lamban melaksanakan pembangunan Indonesia. Salah satu kesimpulan pada era reformasi adalah mempercepat pembangunan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan melalui pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah.

Menurut studi yang dilakukan di Filipina jumlah penduduk provinsi yang ideal adalah 1 sampai 2 juta, untuk satu kabupaten/kota 100 sampai 200 ribu jiwa. Pemerintahan kabupaten sebagai daerah otonom akan lebih demokratis, kepala daerah lebih mudah menjalankan tugasnya dan akan terfokus untuk masalah-masalah yang benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat. Ini berarti bahwa rakyat pada satu daerah otonomi di tingkat kabupaten kota akan lebih banyak berinteraksi dengan kepala daerah dan stafnya dan kontrol sosial masyarakat lebih berfungsi.

Merujuk pada pendapat di atas maka Kabupaten Simalungun sebaiknya dimekarkan menjadi dua kabupaten dan pada tahap berikutnya menjadi 4 sampai 5 kabupaten yang penduduknya masing-masing antara 100 sampai 200 ribu jiwa, sehingga pada akhir ceritanya 5-6 kabupaten hasil pemekaran itu digabungkan dengan kota Pematang Siantar membentuk satu Provinsi Simalungun.

Gambaran ideal yang dicita-citakan oleh pemikir otonomi daerah seperti digambarkan di atas bukan ilusi atau mimpi di siang bolong. Pemikiran pembentukan daerah otonomi kabupaten Tapanauli Utara (256.444 jiwa) dan Tobasa (sekarang 169.116 jiwa) yang kemudian disusul dengan pembentukan kabupaten Humbang Hasundutan (152.757 jiwa) dan kabupaten Samosir (130.662 jiwa) yang diproses sejak 5 tahun silam adalah bukti nyata yang dapat dibuat sebagai rujukan. Keempat kabupaten yang baru yang terbentuk itu adalah ex Kabupaten Tapanuli Utara yang penduduknya 709.000 jiwa. Karena itu kehadiran Provinsi Tapanuli yang sekarang sudah diambang pintu mengacu kepada pendapat di atas. Yaitu penggabungan keempat daerah ex Tapanuli Utara dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga yang penduduknya akan menjadi 1,1 juta (sama dengan penduduk Kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar yang juga hampir 1,1 juta dari masing-msing 841.198 jiwa di Simalungun dan 235.372 jiwa[1] di Pematangsiantar).

Mengamati data-data di atas amatlah menarik untuk menggambarkan skenario apa yang akan terjadi kalau pada tahun 2007 ini (atau paling lambat 2008) Provinsi Tapanuli menjadi kenyataan. Apakah Provinsi Sumut yang penduduknya berkurang 1,1 juta menjadi 11,5 juta tetap menjadi satu provinsi yang utuh? Atau akan muncul gagasan mempersiapkan pembentukan Provinsi lain, semisal Provinsi Nias (harus dimekarkan menjadi 5-6 kabupaten/kota), Provinsi Tapanuli Bagian Selatan (sekarang sudah dipersiapkan menajdi 5-6 kabupaten/kota dengan penduduk sekitar 1,1 juta) dan beberapa provinsi penggabungan kabupaten/kota di daerah ex Keresidenan Sumatera Timur.

Mengapa pemekaran Kabupaten Simalungun penting sebagai upaya mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah ini?
Pembangunan yang macet atau pembangunan yang “jalan di tempat” di Kabupaten Simalungun, khususnya dalam pembangunan infrastruktur, dapat kita lihat dari minimnya penambahan atau pembukaan jalan baru, jalan yang lama rusak khronis. Masih ada beberapa ibukota kecamatan yang tidak dapat dijangkau dengan kenderaan roda 4 kecuali berkeliling melewati kabupaten lain, semisal jalan ke Sindarraya dan Nagori Dolog. Kita tidak habis pikir bagaimana 61 tahun Indonesia Merdeka belum mampu membuka jalan ke kecamatan yang teisolasi itu?

Nah, salah satu penyebabnya karena bupati yang berkedudukan di Pematangsiantar dan mengurus 32 kecamatan dan 840.000 penduduk itu tidak mungkin lagi bekerja efisien dan effektif. Ini bukan hanya disebabkan ketidakmampuan dari bupati-bupati selama ini, tetapi karena secara teknis memang hampir tidak mungkin memikirkan jalan ke Nagori Dolog dan Sindarraya dengan banyaknya urusan-urusan penting yang menyita perhatian dan waktu kepala daerah. Karena merasa diterlantarkan oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun, daerah yang terisolir ini sekarang meminta untuk dipindahkan ke Kabupaten Serdang Bedagai.

Kalau ibukota kabupaten di Sondiraya dan bupatinya hanya mengurusi 7 kecamatan di sekitarnya, dapat kita bayangkan bahwa prioritas utama program pembangunan bupatinya adalah membuka jalan ke daerah yang terisolasi tadi. Sama situasinya kalau ibukota kabupaten di Saribudolok, maka Bupatinya pasti akan memperjuangkan agar jalan akan mulus menuju Medan, Lubuk Pakam dan Tebing Tinggi melalui Saran Padang dan Bangun Purba. Bupati Saribudolok itu pasti akan memfokuskan diri dalam penataan jalan di tepi Danau Toba yang juga terisolir karena masih banyak desa-desa yang hanya dapat dicapai dengan angkutan danau. Demikian juga halnya di daerah sekitar Perdagangan, Tanah Jawa, Tiga Dolok dan Parapat.

Kita berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur lainnya akan berkembang dengan cepat kalau sarana jalan menuju kecamatan-kecamatan dan desa-desa yang terpencil dijamin berfungsi dengan baik. Sarana pendidikan dan kesehatan hanya dapat berfungsi kalau transportasi berjalan dengan wajar. Hasil pertanian akan mendapat „nilai tambah“ dengan pembukaan jalan. Sebaliknya dengan rusaknya jalan yang sudah ada, maka usaha pertanian rakyat akan menjadi tidak efisien dan tidak menambah pendapatan masyarakat.

Salah satu motivasi politisi memperjuangkan pemekaran daerah adalah dalam rangka memperjuangkan kucuran dana pembangunan untuk daerah. Bukankah politik pembangunan adalah perjuangan untuk mendapatkan porsi anggaran yang pantas dan adil untuk daerah masing-masing?

Kritik politisi pusat yang masih mempertahankan pemerintahan yang sentralistik, yang menuduh daerah otonomi baru hanya berupaya menghabiskan uang yang berasal dari Pusat (APBN) menjadi salah kaprah karena memang perjuangan daerah, khususnya daerah tertinggal adalah mengejar ketertinggalan mereka selama ini, yang tidak tersentuh oleh pembangunan, seperti ibukota kecamatan yang belum dibuatkan jalan menuju ibukota kabupaten tadi.

Ini sama saja dengan sentilan mereka yang anti otonomi daerah dengan menyebut “raja-raja kecil” untuk kepala daerah otonomi yang baru itu. Padahal maksud konsep memperkecil daerah kabupaten menjadi sekitar 100 sampai 200 ribu penduduk adalah untuk mengurangi potensi korupsi dan mencegah timbulnya raja-raja kecil itu. Pada daerah kecil demikian, tidak banyak lagi yang bisa dikorupsi. Dan kontrol sosial masyarakat dan pengawasan DPRD lebih berfungsi pada daerah yang bependuduk sedikit ini.

Akan halnya pembagian kue pembangunan untuk daerah otonomi baru itu? Dana pembangunan untuk daerah yang sama akan meningkat. Daerah ex Tapanuli Utara yang sudah mekar menjadi 4 kabupaten itu telah menerima kucuran dana (dituangkan menjadi APBD) yang konon jumlahnya sudah hampir dua kali lebih besar dari APBD Kabupaten Simalungun. Perlu dicatat bahwa Kabupaten Simalungun memiliki penduduk dan potensi (termasuk Pendapatan Asli Daerahnya) yang lebih besar dari daerah ex Taput.

Ada kekuatiran beberapa kelompok kecil etnik Simalungun, pemekaran ini dapat memecah belah kesatuan suku Simalungun sebagai penduduk asli di Simalungun. Kekuatiran mereka juga karena kemungkinan hilangnya „daerah Simalungun“ yang dihuni oleh suku pendatang, sehingga daerah kekuasaan ex 7 kerajaan Simalungun sebelum Indonesia Merdeka tidak utuh lagi, termasuk budaya Simalungun yang terkandung di dalamnya.

Kekuatiran ini dapat kita terima, namun kita berpendapat, bahwa pembangunan budaya Simalungun tidak terlepas dari upaya pemberdayaan masyarakat suku Simalungun itu sendiri. Pemberdayaan manusia etnik Simalungun ini tidak akan akan tercapai kalau tidak ada perjuangan memperbesar alokasi dana pembangunan, mempercepat pembangunan, peningkatan pelayanan publik, rekrutmen politik lokal.

Ini semua hanya dapat diperjuangkan melalui pemerintahan yang dekat kepada rakyat. Pembentukan daerah otonomi dengan penduduk yang lebih kecil membuka jalan untuk ini. Mempertahankan kabupaten Simalungun yang gemuk terbukti malah merangsang pemisahan Kecamatan Silau Kahean memisahkan diri dan masuk ke Kabupaten Serdang Bedagai.

Dengan alasan-alasan tersebut di atas kita mengajak seluruh lapisan masyarakat yang peduli pembangunan Kabupaten Simalungun, apa pun latar belakangnya untuk memperjuangkan pemekaran Kabupaten Simalungun. Selain ex Kabupaten Tapanuli Utara sebagai contoh, tetangga Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Batubara dapat dipedomani. Mengapa Kabupaten Simalungun tinggal diam dan malah tidur? Bergegaslah sekarang.

Ambil jugalah contoh Provinsi Gorontalo (hanya 5 kabupaten/kota dengan penduduk 835.000) dan Bangka Belitung (Babel) yang hanya memiliki 5 daerah otonomi kabupaten/kota dengan 900.000 jiwa.[2] Mereka adalah daerah yang dengan cepat memanfaatkan peluang yang terbuka pada era reformasi. Di negara tetangga kita Filipina yang berpenduduk 75 juta ada 78 provinsi, Thailand yang dihuni 65 juta jiwa diperintah oleh 75 gubernur provinsi.

Kalau Provinsi Tapanuli (Protap) terwujud, logikanya harus direspons dengan gagasan baru Provinsi Simalungun (proyeksi dari pemekaran Simalungun).

Untuk tahap pertama pembentukan darah otonomi baru harus digagasi dengan cepat di Simalungun, yaitu pembentukan Kabupaten Simalungun Hataran dengan ibukota Perdagangan. Panitia persiapan harus dibentuk secepatnya. Alternatif yang terbuka untuk mempercepat proses tewujudnya kabupaten baru ini adalah dengan menyusun kembali persyaratan-persayaratan yang sudah pernah dibuat, mengajukannya ke DPR sebagai usul Hak Inisiatif DPR. Kalau ini berhasil seperti pada pembentukan daerah otonomi Provinsi Kepulauan Riau, mengapa tidak?

Kemudian Kabupaten Induk Simalungun akan berbenah diri dan kalau persiapannya sudah matang, daerah ini, sebagaimana juga Kabupaten Simalungun Hataran, dijajaki menjadi masing-masing 2 kabupaten. Empat kabupaten yang yang terbentuk itu ditambah dengan Kota Pematangsiantar menjadi modal utama cita-cita pembentukan Provinsi Simalungun kelak. Cita-cita generasi penerus yang ingin daerah Simalungun jaya, ikut serta dalam laju pembangunan Indonesia dan tidak menunggu tetesan dana pembangunan dengan berpangku tangan.

Strategi untuk menggolkan gagasan ini dibuat dengan mencari dukungan dari seluruh lapisan masyarakat lintas suku, agama dan golongan. Dalam sistem politik Indonesia gagasan ini harus didukung oleh partai-partai yang mempunyai visi pembangunan dengan percepatan tinggi. Untuk ini setiap partai harus membahas gagasan ini dalam program partainya masing-masing. Dan pada akhirnya rakyatlah yang mementukan partai mana yang dapat menjadi tempat penyampaian aspirasi mereka. Sejarah akan membuktikan apakah partai yang tidak memperjuangkan pemekaran daerah masih mendapat dukungan rakyat. Partai mana yang tidak setuju pembuatan jalan ke Nagori Dolog dan Sindarraya? Partai mana yang tidak bersedia memperjuangkan dana provinsi untuk perbaikan jalan provinsi Pematangsiantar – Kaban Jahe atau Saribudolok – Lubuk Pakam atau Pematangsiantar - Limapuluh? Ini akan dijadikan tema kampanye Pemilu yang akan datang.

Akhirnya kita ingin mengingatkan bahwa pembangunan demokrasi dan upaya pembangunan yang tujuannya mengangkat harkat manusia dari jurang kemiskinan adalah perjuangan hak azasi manusia penduduk Indonesia khususnya di Kabupaten Simalungun, terlepas dia suku apa, agama apa atau golongan apa. Perjuangan demokrasi di satu pihak dan uapaya peningkatan pendapatan masyarakat melalui pembenahan infrastruktur di lain pihak, adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Karena itu kita menghimbau semua lapisan masyarakat, semua golongan, etnik, suku dan ras, partai politik, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mendukung upaya percepatan pembangunan di daerah kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar melalui upaya pemekaran daerah ini. Kalau kota Pangururan sudah menjadi ibukota kabupaten (sekarang jalannya sudah beraspal beton), apakah 10 tahun yang akan datang Saribudolok, yang sekarang lebih ramai, bisa bersaing sebagai ibukota kecamatan?








[1] Data BPS Sumut
[2] Data BPS Tahun 2000

Sunday, January 21, 2007

RUMAH 4 DOKTER SPESIALIS DI PANGURURAN

Photobucket - Video and Image Hosting

Inilah rumah 4 dokter spesialis di Jalan Dr FL Tobing Pangururan, Kabupaten Samosir dipotret 14-1-2007. Rumahnya 2 pintu koppel dengan masing-masing 2 kamar tidur. Selebihnya untuk ruang duduk, ruang makan dan dapur. Untunglah hanya dua di antara mereka yang bawa anaknya, yaitu dr Tatiana (2 anak) dan dr Revita (1 anak), sedang dr Theresia dan dr Ramzi belum punya anak. Mereka adalah dokter PTT (pegawai tidak tetap) masing-masing spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan, spesialis Kesehatan Jiwa, spesialis anak dan spesialis anestesi.

ASRAMA ANAK NIAS KORBAN TSUNAMI SIANTAR DAPAT BANTUAN DARI JERMAN 15.000 EURO (NIASKINDERHEIM IN SIANTAR BEKAM EINE UNTERSTUETZUNG VON 15.000 EURO)

Photobucket - Video and Image Hosting
Anak Nias Ber-tahun-baru di rumah Keluarga Dr Sarmedi Purba (Neujahresbesuch der niaskinder bei familie purba am 17.1.2007)


Dua puluh empat anak sekolah asal Nias korban gelombang tsuname pada 26 Desemebr 2004 yang ditampung oleh Yayasan BINA INSANI di Pematangsiantar menerima bantuan tambahan dari Jerman pada 11 Januari yang lalu. Demikian Dr. Sarmedi Purba SpOG, Ketua Yayasan BINA INSANI mengumumkan hari ini.

(24 schulkinder aus nias, die oepfer der tsunami beben vom 26. dezember 2004 waren und von der Stiftung BINA INSANI in pematangsiantar aufgenommen wurden, erhielt eine zusaetzliche hilfe aus deutschland am 11. januar 2007, BERICHTETETE Dr.med. Sarmedi Purba, Vorsitzender der Stiftung BINA INSANI)

Bantuan tersebut adalah hasil pengumpulan dana Desa Wurmberg, di negara bagian Badaen Wuerttemberg, Jerman untuk membantu anak-anak Nias yang sekolahnya terlantar di Pulau Nias sesudah gempa tsunami 2004 dan gempa 2005. Pengumpulan dana adalah atas inisiatif dari Herr Wolfgang Amann, seorang pengusaha, yang meninjau Nias pada awal tahun 2005 sebelum gempa kedua pada bulan Maret 2005. Herr Amann langsung bicara dengan orang tua anak-anak Nias itu dan melihat malapetaka yang terjadi pasca gempa tsunami yang memporakporandakan kehidupan di pedesaan Nias Selatan waktu itu, khususnya di desa Mandrehe. Dengan ditemani Ir Nitema Gulo, MSi Wolfgang Aman meninjau beberapa desa di Nias awal tahun 2005.

(das geld ist als hilfe durch spendenaktionen der gemeinde wurmberg, land baden wuerttemberg, deutschland, fuer die niaskinder, deren schulung nicht mehr gewaehrleistet durch tsunami im jahre 2005 und nachfolgende erdbeben im maerz 2005 waren. Herr Amann, ein unternehmer, hat mit den Eltern der Kinder in Nias gesprochen und erlebte die Katastrophe durch die tsunami beben, die das leben in den doerfern suednias zerstoert haben. Mit Ir Nitema Gulo, ein Nias, der in der Provinzhauptstadt medan als dozent arbeitete, hat er einige doerfer, unter anderem dorf mandrehe anfang 2005 besichtigt)

Sesudah pulang ke desanya di Wurmberg,Wolfgang Amann mengajak masyarakat dan kepala desa, pemuka-pemuka gereja untuk mengadakan kegiatan pengumpulan dana untuk anak Nias korban tsunami yang telah dijumpainya. Kegiatan bazar, konser musik, pengumpulan dari perkumpulan pemuda gereja diadakan untuk mengumpulkan dana tersebut dan sekarang uang tersebut dikirimkan ke Siantar untuk dipergunakan untuk membantu biaya anak-anak Nias yang sekolah di Siantar. Pada kegiatan konser musik bulan Desember 2006 Dr. Sarmedi Purba dan Ny Gertrud diundang ke Wurrmberg, di mana Ibu Gertrud Purba memberikan informasi tentang penampungan anak-anak Nias oleh Yayasan BINA INSANI di Sianar.

(Zuruck in Wurmberg organisierte Wolfgang Amann mit dem Burgermeister der Gemeinde Wurmberg, mit der christlichen Gemeinde und Jugend spendenaktionen fuer niaskinder, opfer der tsunami beben, die er mit eigenen augen gesehen hat. Bazar, Posaunen-Konzerte, Spendensammlungen von der Jugend wurden veranstaltet. Und jetzt ist das geld da und und nach siantar geschickt. Bei einer konzertveranstaltung im dezember 2006 wurden Dr. med. Sarmedi Purba und sine Frau Gertrud eingeladen und dabei hat Frau Purba ueber das Kinderheim von der Stiftung BINA INSANI, die die Opfer der tsunami in nias aufnahm, berichtet).

Menurut Dr Sarmedi, bantuan pertama diterima dari Lions Club (LC) Kota Gelnhausen, Negara Bagian Hessen, Jerman dibawah pimpinan Prof. Dr Wolfgang Koenig, Dosen Fakultas Ekonomi Univrsitas Frankfurt pada tahun 2005. Herr Koenig sudah 3 kali mengunjungi anak-anak Nias itu di Siantar, terakhir pada 20 Desember yang lalu. Dengan bantuan dari LC Gelnhausen ini biaya 24 anak sekolah asal Nias itu sudah dapat ditutupi selama dua tahun. Bantuan lainnya diterima juga dari Masyarakat Indonesia Jerman Kota Eschborn (pimpinan Rusdin Sumbajak) dan kota Kiel (pimpinan Dr Kreikemeier yang pernah bekerja di Lampung pada tahun 50-an). Dan banyak lagi sumbangan-sumbangan pribadi dari Jerman dan Indonesia, khususnya dari masyarakat Nias di Medan dan Siantar.

(nach Dr Sarmedi kam die erste hilfe im jahre 2005 von Lions Club Gelnhausen in Hessen (President Prof. Dr. Wolfgang Koening, ein dozent der wirtschaftswissenschaftlichen fakultaet der uni frankfurt). Herr Koenig hat das Kinderheim schon drei mal besucht, zuletzt am 20. dezember 2006. Mit der hilfe aus Gelnhausen sind die Lebenskosten der 24 Niaskinder fuer 2 Jahe gewaehrleistet. Ausserdem gibt es noch Spenden von der Deutsch Indonesischen Geselschaft (DIG) Eschborn (Vorsitzender Rusdin Sumbajak) und DIG Schleswig Holsten in Kiel (Vorstand Dr.med. Kreikemeier, der in 50-ziger jahren in lampung auf der insel sumatra arbeitete). Privatspenden aus deutschland und Indonesien hat man auch fuer die niaskinder bekommen, besonders von den niassern in siantar und medan).

Semua hubungan dengan penyumbang dari Jerman ini dihubungkan oleh teman-teman sekolah di Jerman, seperti Rusdin Sumbajak dari Eschborn (dekat Frankfurt) dan dr Tammat Sitepu dari Kiel. Orang-orang Jerman sangat antusias dari langsung datang meninjau ke Indonesia. Yang utama bagi mereka, bantuan sampai langsung kepada penerima dan dapat dilaporkan langsung kepada penyumbang, kata Sarmedi.

“Alle kontakte mit deutschland wurden durch meine Freunde waehrend der Studienzeit in Deutschland zustandegekommen, wie rusdin sumbajak aus eschborn und tammat sitepu aus kiel. Die deutschen waren sehr interessiert und kamen sofort zur besichtigung nach indonesien. Wichtig ist nur, dass die hilfe direkt zu den empfaengern gegeben werden und die ergebnisse der aktionen auch direkt den spendern gegeben, sagte Sarmedi)

Rusdin Sumbajak juga mengumpulkan obat-obatan yang disumbangkan untuk korban gempa Nias dan Aceh waktu itu. Sumbangan obat-obatan dari Masyarakat Indonesia Jerman itu kami teruskan kepada PMI Pusat, kata Sarmedi, yang juga Ketua PMI Cabang Siantar Simalungun itu.

(rusdin sumbajak hat auch medikamente fuer die tsunamiopfer in nias und aceh gesammelt. Diese hilfe von DIG Eschborn haben wir an die haupftverwaltung des indonesischen roten kreuzes in jakarta weitergegeben, sagte dr purba, der auch als vorsitzender des roten kreuzes indonesien in siantar simalungun taetig ist.

Anak sekolah dari Nias Selatan itu tiap tahun dikirim pulang ke Nias pada libur Natal/Tahun Baru supaya mereka tidak kehilangan kontak pribadi dengan keluarga mereka. Mereka terdiri dari 4 perempuan dan 20 laki-laki yang mengunjungi sekolah di SD Katolik 3 orang, SMP Katolik 17 orang dan SMU Kampus Nommensen 4 orang.

(die schulkinder aus suednias werden jedes jahr in weihnachtsferien nach hause geschickt, damit sie mit ihren angehoerigen in verbindung bleiben. Sie bestehen aus 4 maedchen und 20 jungen, 3 kinder in der grundschule, 17 kinder in der mittleren schule dan 4 kinder in der oberschule).