Wednesday, August 12, 2009

Resensi Buku Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi


“Mencari Harimau Liar”

Sangat kurang informasi mengenai revolusi sosial di Simalungun pada tahun 1946. Sebagian besar tak setuju jika hal tersebut dianggap revolusi. Tapi faktanya ada sekelompok orang yang ditunggangi kepentingan tertentu yang ‘menyembelih’ keluarga raja-raja Simalungun. Menyedihkan, sesama anak negeri saling membunuh.

Peristiwa puluhan tahun lalu itu ditenggarai sebagai tragedi memilukan yang traumatis. Tidak ada permintaan maaf dari siapapun. Bahkan Saragih Ras yang menjadi pemimpin gerakan tersebut, ketika ditanya oleh tokoh Simalungun Djariaman Damanik saat mereka bertemu di Tapanuli, mengatakan menyesal. Sampai sekarang, peristiwa tersebut dianggap sebagai penyebab kurang pastisipatifnya orang Simalungun dalam berpolitik. Benarkah demikian?
Setidaknya, hal itulah salah satu yang dicatat dalam biografi “Sarmedi Purba, Titian Nadi Dokter Pelangi,” yang ditulis Khairiah Lubis, dengan editor Marim Purba, pengantar oleh Prof Dr Ir Bungaran Saragih, MEc dan diterbitkan oleh MitraMedia Communication, 264 hal, Medan, 2009.
Buku ini penting bagi anak Siantar, karena sangat sedikit anak-anak Siantar yang mendokumentasikan kisah masa lalunya. Padahal sejarah nasional mencatat begitu banyaknya tokoh asal Siantar yang ikut dalam pergerakan sejarah Indonesia. Buku biografi ini menggambarkan kisah Simalungun di masa lalu, kebudayaan Simalungun dan sejarahnya termasuk tragedi di atas yang dikenal dengan gerakan Barisan Harimau Liar (BHL). Sarmedi berpendapat bahwa fakta sejarah tentang BHL tersebut harus dibuka.
Menarik bahwa buku ini dimungkinkan berisi campur sari karena Dr Sarmedi Purba sengaja meminta penulisnya menceritakan kisah di sekeliling kehidupan Sarmedi. Dengan demikian bisa dihindari bahaya yang selama ini terjadi berubahnya ‘history’ menjadi ‘his story,’ yang seakan-akan cuma sikap narsis membicarakan diri sendiri.
Sarmedi memang orang yang tak sabar. Selain gelisah kesana-kemari memenuhi panggilan kemanusiaannya untuk orang sakit, tapi ia juga menyadari bahwa kesakitan sosial yang lebih luas ada di tengah masyarakat. Kurdet, demikian panggilan Dr Sarmedi akhirnya terjun di banyak kegiatan; pengabdian desa dan pembuatan instalasi air minum bersama Yayasan Bina Insani yang dibangunnya, membangun PMI, mendirikan Rumah Sakit Vita Insani, terlibat di Pelkesi (perkumpulan rumah sakit kristen), diskursus mengenai jaminan kesehatan, dan lain-lain.
Hidupnya dimulai dari Pematangraya, sebuah ‘desa’ 30 km dari Pematangsiantar, belajar di Sekolah Rakyat sambil juga bekerja di ladang. Ayahnya seorang penjaja obat keliling dari ‘pekan’ ke pekan, pasar tradisional yang hanya buka pada hari tertentu setiap minggu di berbagai tempat di Simalungun. Sekolahnya disela oleh peristiwa revolusi sosial 1946-1947 yang misterius, mengungsi dan pulih sampai kemudian ia SMP di Siantar.
Lengkingan pertama seorang bayi Sarmedi di Pematangraya, dibarengi juga kisah dan catatan mengenai sejarah keluarga, dan hal ini menggambarkan dengan tepat situasi kemasyarakatan Simalungun saat itu. Juga pada bagian ini disertakan juga catatan yang akan memberi perspektif baru bagi pembaca mengenai sejarah Simalungun. Beruntung karena Mansen Purba, SH seorang budayawan dan sejarawan Simalungun sempat ikut memberi kontribusi sebelum ia meninggal dunia, sebulan sebelum buku ini terbit.
Selanjutnya sekolah Sarmedi sampai di SMA Negeri 1 Medan adalah hal biasa, tapi mimpi yang memenuhi masa mudanya adalah tidak biasa. Tanda-tandanya dimulai sejak ia aktif memimpin kelompok pemuda di gereja GKPS, lalu aktif di organisasi ekstra universiter GMKI, termasuk kecerdesannya di kampus Fakultas Kedokteran USU. Katanya mengomentari candu organisasinya, “Kalau tidak berorganisasi rasanya seperti ada yang missing,”
Tapi faktanya itulah yang mendorong GKPS – atas sponsor sebuah lembaga mitra – mengirimnya ke Jerman untuk sekolah lanjut kedokteran. Akhirnya mimpi ke luar negeri menjadi kenyataan. Sebuah langkah yang langka di masa ke Indonesiaan saat itu yang baru lahir dan bertumbuh. Dalam catatan pengantarnya Prof Bungaran Saragih menggambarkan langkah Sarmedi ke Jerman telah menjadi inspirasi bagi anak sekolah lainnya untuk maju.
Yang menarik bahwa Sarmedi memilih tinggal dan mengabdi di desa. Padahal umur produktifnya membuka kesempatan untuk menjadi dokter mapan di ibukota. Obsesinya dari Jerman tentang perumahsakitan yang modern tetap tertanam di benaknya, walaupun ia jauh dari modernisasi. Itulah akhirnya yang mendorong berdirinya RS Vita Insani. Lalu kegiatan lainnya, termasuk memimpin partai di Sumatera Utara dilakukannya dari Siantar. Teknologi komunikasi dimanfaatkannya untuk menjadi jembatan informasi dengan ‘dunia luar’ yang lebih maju. Jarak tidak lagi menjadi hambatan.
Maka Sarmedi tampil sebagai sosok dokter yang punya perhatian sosial, ikut memecahkan masalah nasional dari perspektif lokal. Sekaligus menjadi manusia lokal trans nasional yang mengglobal. Sarmedi membuktikan bahwa partisipasi bisa dilakukan dari aras manapun, sepanjang ada komitmen, kesabaran dan ketekunan.
Kisah yang ditulis oleh Khairiah Lubis, mantan redaktur MedanBisnis begitu mengalir dan menonjolkan warna khas tulisan Awie, demikian panggilannya, yang lama mengelola features di edisi mingguan MedanBisnis dan MedanWeekly. Buku ini layak dibaca untuk membandingkan kisah meniti sukses di masa lalu dengan sekarang, khususnya dalam menjelmakan mimpi menjadi nyata. (***)

1 comment:

Onny Kresnawan said...

Saya sudah melahap habis buku "titian Nadi Dokter Pelangi" ini. Bagi saya buku ini terangkai dengan kalimat serta bahasa tutur kisah yang apik sehingga tanpa sadar mengajak pembacanya mengikuti terus alur cerita hingga tuntas. Pikir saya buku ini juga bukan sekedar buku otobiografy seorang Sarmedi seorang dan jauh dari kesan "marpoken" atau narsisme (seperti kebanyakan buku otobiografy yg saya temukan sebelumnya)tapi buku ini sekaligus menjadi referensi sejarah dan full dengan ide dan gagasan cerdas membangun. Beruntung, disamping kelihaian penulisnya dalam merangkai kata dan kisah, tentunya berbobotnya buku ini saya nilai dikarenakan sang sosok tokohnya yg juga memiliki kopetensi serta kapasitas sebagaimana dalam isinya. Semoga banyak bermanfaat bagi generasi mendatang dan sukses buat penulisnya!

Salam
Onny Kresnawan
http:/www.sfdph.co.cc