Friday, December 29, 2006

IN MEMORIAM LESMAN PURBA

Jumat, 29 Desember 2006

IN MEMORIAM LESMAN PURBA

Oleh Sarmedi Purba

Mayor Polisi (Purnawirawan) Lesman Purba telah tiada. Pada hari Jumat sore, 26 Desember 2006, jam 18.15 Abang Lesman menghembuskan nafasnya terakhir pada umur 81 tahun , 3 bulan dan 7 hari meninggalkan isterinya Kak Jubaidah dan 10 orang anak (3 putra dan 7 putri) yang semuanya sudah berkeluarga.

Beberapa tahun terakhir ini Bang Lesman sekali sebulan datang ke rumah saya di Jalan Mesjid, Timbang Galung, Pematangsiantar, biasanya sebelum atau sesudah mengambil uang pensiunnya di Kantor Bendahara Negara Jalan Kartini, yang tidak jauh dari rumah kami. Kami ngobrol, tentang cerita lama, sejarah lama, kenangannya waktu di Raya sebelum Jepang datang, masa Jepang, waktu revolusi sosial. Begitu juga dia pernah cerita tentang pengalamannya di sekolah Polisi di Sukabumi (1950 – 1951), kemudian dikirim ke Kalimantan tahun 1951.

Walaupun dia lebih tua 14 tahun dari saya, rasa persaudaraan kami sangat kental sekali, cerita seperti teman sebaya, termasuk cerita tentang pribadinya, malah hal-hal yang sangat intim pun diceritakan. Karena itu saya ingin menggambarkan – dari sudut pandang saya – pribadi Lesman Purba sebagai manusia sosial yang dikenal oleh masyarakat Simalungun pada masanya. Mudah-mudahan masyarakat Simalungun akan mengenang Bang Lesman dan tidak melupakan sosok orang baik ini.

Lesman Purba sebagai politisi.
Dari cerita orang dan yang saya dengar dari „parbualan“ kami, Lesman Purba masuk Golkar sejak awal berdirinya Golkar (dengan nama Sekber Golkar) dari unsur Kekaryaan ABRI, di mana polisi termasuk di dalamnya.

Lesman Purba sudah diangkat menjadi anggota DPRD-GR (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong) dari unsur ABRI pada tahun 1968, pada tahun-tahun permulaan pemerintahan Presiden Soeharto.
Menjelang Pemilu 1971, pemilihan umum pertama zaman orde baru, dia berusaha tanpa pamrih mengajak teman-temannya dari Simalungun memasuki dunia politik dengan tujuan agar mereka ikut menentukan arah pembangunan di Simalungun. Pada waktu itulah dia sebagai abang kami mendesak agar abang saya, Mansen Purba, SH, menjadi calon legislatif dari Golkar. „Waktu itu saya bilang sama Mansen agar dia tidak ragu-ragu, kita harus bermasyarakat“, katanya. Pada DPRD hasil Pemilu 1971, dia sendiri diangkat kembali menjadi anggota DPRD Kabupaten Simalungun dari Fraksi ABRI, unsur Kepolisian.

Lesman Purba dikenal sebagai orang yang jujur dan mempunyai analisa politik yang tajam. Karena itulah dia tetap di Golkar setelah pensiun dari Kepolisian, dan ditugaskan kembali menjadi anggota DPRD Kabupaten Simalungun masa bakti 1977-1982, dan pada Pemilu 1982, dia dicalonkan oleh Golkar dan terpilih, sehingga duduk di Dewan itu sampai tahun 1987.

Lesman selalu berpendapat bahwa pengangguran sebenarnya tidak harus ada di Sumatera ini kalau orang mau bekerja keras dan tidak bermalas-malas seperti yang sering kita lihat pada masyarakat kita. Banyak kerja, kalau kita mau, katanya. „Tetapi kalau sepanjang hari orang main catur di kedai tuak, bagaimana tidak jatuh miskin“, katanya.

Salah satu proyek yang saya ingat diperjuangkan oleh Lesman Purba adalah pembangunan Air Minum di Kecamatan Raya, yang sampai sekarang masih ada.

Lesman Purba sebagai sorang polisi.
Sebagai polisi di Siantar ini saya belum pernah menangkap orang, memproses penangkapan orang, katanya. Jadi apa gunanya jadi polisi? Rupanya Bang Lesman ini kerjanya lebih banyak mengurusi kesejahteraan anggota kepolisian, termasuk mengurus koperasi, mengurus beras dan lauk pauk anggota kepolisian Resort Simalungun.

Tapi dia pernah ikut menumpas pemberontakan DI/TII di Kalimantan dan untuk itulah dia dikirim ke sana. Sesudah tugas tersebut selesai (4 tahun di Kalimantan) Lesman minta dipindahkan ke Sumatera karena dia berasal dari sana. Permohonan itu terkabul dan dia ditempatkan selama 2 tahun di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), dari tahun 1955 sampai 1957. Kemudaian dipindahkan lagi ke Labuhan Bilik, dimana dia bertugas selama 4 tahun sampai 1961. Perpindahan berikutnya adalah ke Dairi (Sidikalang) selama 2 tahun, baru diperbolehkan pindah ke kampungnya sendiri di Pematangsiantar pada tahun 1963, di mana dia pensiun dengan pangkat Mayor pada tahun 1980.

Manusia sosial.
Abang Lesman ini dalam hidupnya dia tak pernah diam. Dia selalu aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Sebagai polisi dia pernah ikut sebagai pengusaha kolam renang Siantar. Dia pernah membangun koperasi di Kecamatan Siopat Suhu Kota Siantar dan berhasil sebagai salah satu percontohan koperasi yang berkembang pada masanya. Kabarnya, karena koperasi ini banyak dicampuri pihak luar, termasuk aparat pemerintah, maka koperasi yang sudah terbangun itu lambat laun menjadi ambruk.

Sesudah pensiun dia berladang di Hapoltakan, Kecamatan Raya. Dibangunnya rumah di ladang itu. Kemudian dia membangun rumah makan RIAHDO di dekat Pekan Raya, yang sampai sekarang masih eksis, dilanjutkan oleh anaknya sendiri.

Pada awal sembilanpuluhan dia mendirikan Partumpuan Purba Sigumonrong, Boru pakon Panogolan di Siantar dan sekitarnya. Semua anak-anaknya diajaknya masuk kumpulan ini yang melaksanakan arisan sekali sebulan.

Pada tahun 60-an Lesman bersama saudara sepupunya Saridin dan Sudiman membuat kesepakatan (pati-patian) tentang SIGUMONRONG 19. Keunikan gagasan ini adalah bahwa mereka 19 bersaudra dari satu Kakek, Oppung Mariam Purba Sigumonrong, adalah satu keluarga yang disebut sisada hasuhuton. Artinya, walaupun mereka terdiri dari sepupu yang mempunyai 5 bapak dari 3 nenek perempuan yang berbeda (Kakek mereka, Mariam, mempunyai 3 isteri), mereka adalah sama-sama suhut atau tuan rumah pada upacara adat pada semua keluarga dan keturunan 19 orang bersaudara itu. Ini mempunyai implikasi bahwa kalau sesorang dari sepupu 19 mengawinkan anak, maka semua sanina-19 bertanggungjawab sebagai orang tua dan saudara, mereka tidak datang sebagai keluarga sibiak sanina tapi benar-benar sebagai tuan rumah, suhut bolon pada upacara adat itu.

Walaupun abang saya ini beragama Islam yang taat, dia tidak pernah melepaskan atau merenggangkan kekerabatannya dengan semua keluarganya yang kebanyakan beragama Kristen. Saya merasa bahwa perbedaan agama seperti yang kami alami tidak pantas menjadi perseteruan di tengah keluarga dan ini sering saya bawa sebagai contoh dalam kehidupan bermasyarakat di daerah ini.

Pernah sekali saya tanya, apakah dia masuk Islam karena kawin dengan isterinya yang beragama Islam. Tidak, katanya. Saya waktu pindah dari Jawa ke Kalimantan sudah masuk Islam dan saya tidak pernah masuk Kristen di Raya. Buktinya, ayah saya baru masuk Kristen sesudah saya kembali ke Siantar, katanya berapi-api.

Sebagai seorang Islam yang taat dan sudah menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1996, dia berpesan agar pada pemakamannya tidak usah pakai upacara adat Simalungun seperti pakai porsa (ikat kepala dengan kain putih sebagai penghormatan kepada orang yang sudah sayur matua), tidak usah mangiligi (menerima kedatangan sanak saudara sebagai penghormatan terakhir) dan lain sebagainya yang biasanya dilakukan pada upacara pemakaman di daerah adat Simalungun.

Namun Abang Lesman ini melakukan upacara adat Simalungun pada semua perkawinan anak-anaknya. Yang menarik, pada keluarga ini disediakan juga dayok nabinatur (ayam yang diatur sesuai bagian-bagiannya dari kepala, kaki sampai ekor, yang dipersembahkan sebagai makanan adat), tetapi tidak dengan campuran darah seperti biasanya di kampung, tetapi dengan bumbu khas Simalungun dan bisa dimakan oleh penganut agama Islam.

Abang Lesman menurut saya adalah sosok manusia yang diberkati Tuhan, pemurah dan selalu siap menolong. Semua adik-adiknya diurusnya, mulai dari urusan sekolah, mengawinkan dan mencari kerja. Bukan itu saja, dia hormat sekali kepada tondongnya, khususnya yang bermarga Saragih Garingging. Garingging adalah keluarga ibunda Lesman Purba, yang kebetulan adalah saudara perempuan Raja Tua Tuan Hapoltakan Saragih Garingging yang memerintah di Kerajaan Raya sejak Tuan Rondahaim wafat (1890) sampai tahun 1933.

Memang ibunda Lesman Purba meninggal pada masa evakuasi (mengungsi) pada pergolakan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Ibunya jatuh sakit di barak pengungsi dan meninggal tahun 1947, masih sempat dilihat sepupunya Saridin Purba dan Jansen Saragih Garingging di Aman Raya waktu itu.

Mungkin karena itulah Lesman Purba menganggap sebagai kewajibannya mengurus semua urusan Saragih Garingging, mulai dari urusan perkawinan, mencari kerja, membantu dengan pemberian dana, mengurus tanah leluhur Garingging, dan banyak lagi urusan yang tidak dapat disebut satupersatu di sini.

Menurut kepercayaan lama suku Simalungun orang yang hormat kepada tondongnya akan mendapat pahala dan yang tidak melakukannya, tanamannya akan mati (melus suan-suananni = tananmmnya layu). Karena penghormatan Bang Lesman inilah kepada tondongnya maka rejekinya selalu baik dan terutama anak-anaknya berhasil dalam keluarga dan pekerjaannya. Anaknya sudah ada yang menjadi orang yang berada di Jakarta, ada yang sudah jadi Kepala Pabrik di PTPN, ada pula yang jadi pegawai PAM yang senior, pemeriksa di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jakarta, dan banyak lagi hasil karya anak-anaknya sudah kelihatan pada masyarakat di Siantar Simalungun dan di Jakarta. Pokoknya tidak ada anaknya jadi preman atau pengangguran.

Saya mengajak kita semua mengenang Lesman Purba dan mempelajari dan mengingat jasa-jasa dan perbuatannya sebagai sosok yang patut dicontoh oleh generasi penerus.
Photobucket - Video and Image Hosting
Haji Lesman Purba

Photobucket - Video and Image Hosting
Sanina, Boru, Sikkuta pada acara pemberangkatan jenazah ke Mesjid Al Ikhlas

Photobucket - Video and Image Hosting
Bunga Papan dari Pimpinan DPRD Simalungun disamping Bunga Papan dari Bupati Simalungun Drs Zulkarnain Damanik MM dan DPD Golkar Kab Simalungun

Photobucket - Video and Image Hosting
Anak dan Isteri Lesman Purba

2 comments:

Pia said...

Tongah,
Bagus tulisan nya untuk mengenang bapak2 kita yang kayanya sudah mulai berpulang satu persatu. Mungkin Tongah juga bisa certia tentang bapak2 yang lain yang mungkin jasa dan karyanya tidak banyak, tapi paling tidak ada kesan-kesan yang khusus sehingga anak2 dan cucu2 bisa tahu cerita jaman dulu.....Tx atas info nya.

Btw, Blogger pak TOngah aku taruh di blogger ku, sehingga kalo ada yg masuk blogger ku, pasti bisa menjelajah blogger tongah juga....

Salam buat keluarga,

Pia Purba

Perjalanan Hajiku said...

Terima kasih ceritanya. By writer of Hajji Book:
40 Hari Di Tanah Suci.
Thank you